Usul Menteri Rini Mentah, Investasi LRT jadi Rp29,9 Triliun

Agustiyanti & Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 20:45 WIB
Usul Menteri Rini Mentah, Investasi LRT jadi Rp29,9 Triliun Menteri BUMN Rini Soemarno, sebelumnya mengusulkan pembentukan perusahaan patungan untuk meringankan beban investasi PT KAI (Persero). (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah memutuskan PT Kereta Api Indonesia (Persero) tetap menjadi investor utama dalam pembangunan proyek Light Rapid Transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodebek).

Kendati demikian, estimasi investasi proyek tersebut dipangkas dari semula Rp31 triliun menjadi Rp29,9 triliun.

Keputusan tersebut sekaligus menolak usulan Menteri BUMN Rini Soemarno yang meminta dibentuknya perusahaan patungan (joint venture/JV) guna meringankan beban investasi KAI pada proyek tersebut. Sebelumnya, Rini khawatir bengkaknya kenaikan biaya investasi LRT Jabodebek.


"Tidak ada JV. Sudah jelas strukturnya yang di-guarantee (dijamin) itu KAI. Tidak bisa pemerintah itu meng-guarantee nonpemerintah," tegas Menteri Koordinator Maritim Luhut B Panjaitan dalam Konferensi Pers Proyek LRT Jabodebek, Jumat (8/1).


Luhut mengungkapkan, financial closing proyek LRT akan dilakukan pada 21 atau 22 Desember 2017. Sementara, pencairan dana untuk PT Adhi Karya Tbk (ADHI) sebagai kontraktor sendiri akan dilakukan pada 15 Januari mendatang.

"Tidak ada perubahan signifikan, proyek berjalan baik. Kami tetap financial closing bulan ini," kata Luhut.

Luhut memastikan, proyek ini tetap akan menguntungkan bagi kedua BUMN. Internal rate of return (IRR) proyek LRT akan berada di angka double digit atau sebesar 11 persen.

Angka itu naik dari sebelumnya yang hanya 8,9 persen. Pasalnya, angka sebelumnya dihitung tanpa ada proyek Transit Oriented Development (TOD).

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, total kebutuhan investasi proyek LRT Jabodebek diputuskan sebesar Rp29,9 triliun. Pembiayaan proyek, menurut dia, akan dibiayai oleh KAI sebesar Rp25,7 triliun dan PT Adhi Karya Rp4,2 triliun.


"Skema yang ada adalah Adhi dapat PMN (Penyertaan Modal Negara) di 2015 Rp1,4 triliun dan kemudian rights issue, sehingga memperoleh Rp4,2 triliun. KAI dapat PMN Rp7,6 triliun dan akan meminjam Rp18,1 triliun," jelas Sri Mulyani.

Adapun penerimaan proyek ini, menurut dia, tak hanya berasal dari tiket penumpang, tetapi juga elemen subsidi dari pemerintah dan penyewaan TOD (Transit Oriented Development)," terang dia.

Rini menambahkan efisiensi biaya proyek LRT Jabodebek berasal dari efisiensi pada pembangunan TOD dan depo. (bir)