Balada Kretek Pria 'Asgar' dan Surga Mewah Si Super Taipan

Anugerah Perkasa, CNN Indonesia | Senin, 11/12/2017 12:08 WIB
Balada Kretek Pria 'Asgar' dan Surga Mewah Si Super Taipan Rokok tak hanya menjadi salah satu penyumbang terbesar kemiskinan. Komoditas ini pun membuat sebagian pundi-pundi harta sejumlah taipan lebih gendut. (CNN Indonesia/Gloria Safira Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Agus Rustia tampaknya sudah punya resolusi untuk tahun depan: berhenti merokok. Kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak duduk di bangku SMP pada 1990-an lalu, secara sembunyi-sembunyi.

Mulai dari beli per batang dengan duit sendiri hingga patungan dengan kawan-kawannya. “Ibu tahu dan sempat marah. Bapak dulu perokok berat. Sehari bisa dua bungkus,” kata dia, Sabtu (9/12).

Agus kini berumur 41 tahun. Dia asli dari Desa Sukalilah, Kecamatan Cibatu, Garut, Jawa Barat. Sebutannya: Asgar alias asli Garut. Punya tubuh relatif kurus dan berambut lurus. Istrinya dan dua anaknya tinggal di kampung.


Sejak 1998 lalu, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih merangkap tukang kebun di satu rumah kawasan Percetakan Negara, Jakarta Pusat. Upah totalnya kini mencapai Rp2,1 juta per bulan.


“Saya biasa menghabiskan tiga bungkus rokok Djarum Super dalam sebulan, satu bungkus harganya Rp18.000,” kata dia. “Rokok biasanya teman ngopi, habis makan atau lagi ngumpul.”

Namun, Agus mungkin tak banyak tahu soal rokok dan kemiskinan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan rokok adalah penyumbang terbesar kedua terhadap garis kemiskinan makanan (GKM)—setelah beras— baik di pedesaan maupun perkotaan.

Metode penghitungan BPS sendiri mengacu pada pendekatan kebutuhan dasar baik makanan maupun non-makanan yang dikeluarkan biayanya oleh masyarakat.


Pada 2016, BPS menuliskan sumbangan rokok terhadap GKM adalah 8,08 persen untuk perkotaan sedangkan 7,68 persen untuk pedesaan.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 2015 juga menemukan penduduk 15 tahun ke atas mengkonsumsi rokok sebanyak 22,57 persen di perkotaan dan 25,05 persen di pedesaan.


BPS berpendapat seseorang dapat dikatakan tidak miskin, jika dapat mengalihkan pengeluarannya untuk rokok menjadi komoditas makanan yang memiliki kilo-kalori. Masalahnya, selama periode September 2016—Maret 2017, jumlah penduduk miskin naik 188.000 orang hingga menjadi 10,67 juta orang dari sebelumnya 10,49 juta orang.

Soal kemiskinan, analisis lain juga datang dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

“Perokok di negara berkembang lebih mengutamakan konsumsi rokok dibandingkan makanan bergizi,” kata Budi Hidayat, Ketua Center for Health Economics and Policy Studies (Cheps) dalam keterangannya. “Ini memicu masalah kesehatan dan kemiskinan.”

Balada Kretek Pria 'Asgar' dan Pundi Gendut Si Super TajirBPS menyebutkan rokok merupakan penyumbang terbesar kedua terhadap GKM baik di pedesaan maupun perkotaan (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Surga Produsen Rokok

Analisis Cheps menyatakan regulasi yang mengatur harga rokok di Indonesia menjadi surga bagi produsen karena harganya yang murah. Namun, justru menjadi neraka bagi para kalangan non-perokok, yakni generasi muda, rumah tangga, hingga pemerintah yang menanggung biaya atas sakit karena rokok.

“Saya ingin berhenti tahun depan, kasihan anak-anak,” kata Agus.

Tetapi, lingkaran kemiskinan juga tak menghampiri pria ‘Asgar’ tersebut. Kemiskinan juga menyebar di kalangan sebagian besar petani tembakau di Indonesia.

Laporan terbaru Bank Dunia menyebutkan bahwa 72,2 persen petani tembakau adalah miskin dibandingkan dengan 11,1 persen populasi umum di negara ini. Laporan berjudul The Economic of Tobacco Farmings in Indonesia: Health, Population and Nutrition Global Practice menyatakan kebanyakan rumah tangga petani tembakau justru mendapatkan bantuan sosial berupa beras untuk kalangan orang miskin.


“Ketidakamanan pangan biasa terjadi di kalangan rumah tangga petani tembakau,” demikian Bank Dunia. “Sebanyak 60 persen dari mereka dilaporkan tak cukup pangan.”

Laporan tersebut juga menyatakan budidaya tembakau tak menguntungkan sebagian besar petani. Bank Dunia menyebutkan salah satu masalah adalah ongkos yang dikeluarkan untuk budidaya lebih besar dibandingkan pendapatan yang dierima.

Rata-rata pendapatan petani tembakau per hari mencapai US$2,9 atau lebih rendah dibandingkan dengan bekas petani tembakau—yang kini menanam jagung, kentang dan sayuran lainnya, yakni US$3,7. 

[Gambas:Youtube]

Selain itu, demikian Bank Dunia, para petani tembakau pun memiliki modal yang terbatas. Sebesar 53 persen dari mereka dilaporkan harus berutang sebelum menanam komoditas tersebut. Petani tembakau sendiri tersebar di pelbagai wilayah macam Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara Barat.


Keuntungan Terbesar

Namun, pemilik akhir komoditas tembakau justru dinilai menikmati keuntungan terbesar. Di antaranya adalah keluarga taipan Hartono—yang memiliki grup bisnis Djarum.

Selain bisnis rokok, keluarga itu juga memiliki saham Bank Central Asia (BCA), salah satu bank dengan aset terbesar di Indonesia. Dilaporkan sejumlah media pada 2015, keluarga Hartono memiliki kekayaan senilai US$12,7 miliar. Bisnis raksasa itu kini dijalankan oleh Robert Budi Hartono serta Michael Hartono.

Djarum sendiri memulai bisnisnya sejak 1950-an di Kudus, Jawa Tengah. Dalam situs resminya disebutkan, perusahaan itu telah merambah pasar global sejak 1972 dan menjadi pemain penting dalam industri kretek dunia.

Di sisi lain, grup bisnis itu juga memiliki pelbagai program untuk masyarakat hingga olah raga melalui Djarum Foundation. Di antaranya adalah Djarum Community Contributions, Djarum Badminton Scholarships, Djarum Trees for Life, Djarum Scholarsip Plus, dan Djarum Cultural Appreciation.


“Mempercayai kekuatan pendidikan untuk membuka potensi individu menuju kualitas hidup yang lebih baik dan bangsa yang lebih kuat, Djarum telah aktif mendukung pendidikan di Indonesia,” demikian keterangan grup tersebut.

Bisnis rokok lainnya juga dijalankan oleh keluarga taipan Wonowidjojo dengan grup usaha Gudang Garam—produsen Gudang Garam Merah dan Gudang Garam Internasional. Grup itu memulai usahanya di Kediri, Jawa Timur pada 1950-an dan sejak 1990 mulai mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya dan Bursa Efek Jakarta.

Pada tahun yang sama, kekayaan keluarga ini mencapai US$4,9 miliar.

Dalam laporan terbuka, tanggung jawab sosial perusahaan itu diterapkan dalam pelbagai kegiatan di antaranya adalah kegiatan budaya, pendidikan, layanan kesehatan, hingga olah raga.

“Kami memandang bahwa implementasi tanggung jawab sosial merupakan kesempatan untuk memastikan perseroan dan masyarakat dapat tumbuh bersama,” demikian keterangan perusahaan.


Pada 2016, kekayaan dua keluarga konglomerat ini juga terus naik.

Keluarga Hartono memiliki aset hingga US$15,4 miliar dan keluarga Wonowidjojo mencapai US$5,5 miliar. Pada tahun ini, Forbes melaporkan masing-masing aset keluarga taipan itu naik menjadi US$32,3 miliar dan US$8,8 miliar.

Global Wealth Report 2017 yang diluncurkan Credit Suisse pada Oktober lalu menyatakan terdapat 153.000 orang super ‘duper’ tajir asal Indonesia masuk ke dalam kategori 1 persen yang menyumbang kekayaan global.

Lainnya, ada 2,6 juta orang super kaya Indonesia dalam kategori 10 persen penyumbang aset dunia.

Balada Kretek Pria 'Asgar' dan Pundi Gendut Si Super TajirKeluarga Hartono memiliki grup bisnis Djarum. Selain bisnis rokok, keluarga itu juga memiliki saham Bank Central Asia. (REUTERS/Beawiharta)

Nilai aset untuk kategori orang kaya alias High Net Worth Individuals sendiri adalah US$1 juta sampai dengan US$50 juta. Sementara orang super kaya atau Ultra High Net Worth Individuals mulai dari US$50 juta atau setara Rp675 miliar ke atas.

Berdasarkan data the International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) kedua keluarga itu masing-masing menempatkan sebagian dananya di kawasan surga pajak, British Virgin Islands. Keluarga Hartono, misalnya merupakan pemegang saham dari Pacific Brands Limited sedangkan keluarga Wonowidjojo menggenggam saham Markwell Group Ltd.

Di sisi lain, laporan Bank Dunia justru menemukan jurang antara super kaya dan miskin bertambah dalam di Indonesia sepanjang 2004-2014.

Ketimpangan dalam sepuluh tahun terakhir itu, ikut didorong oleh tingginya konsentrasi kekayaan sebagian kecil orang super kaya di Tanah Air. Lebih tepatnya, kata lembaga tersebut, satu persen rumah tangga menguasai 50 persen kekayaan dari Sabang sampai Merauke. 

Dari kawasan Percetakan Negara, Agus Rustia mungkin tak begitu peduli soal laporan Credit Suisse hingga ketimpangan Bank Dunia.


Dia hanya mengerti bahwa kelahiran anak perempuannya, Amira, pada akhir Oktober lalu, turut mendorongnya segera berhenti merokok. Pria ini pun juga ingin menyisihkan uang dari rokoknya untuk ditabung kelak—guna biaya pendidikan.

Soal hubungan kekayaan taipan karena bisnis rokok, Agus pun makin membulatkan tekadnya. “Karena sekarang sudah tahu,” kata dia lagi. “Buat apa (lagi) buang-buang duit.” (asa)


ARTIKEL TERKAIT