Dilansir dari Reuters, Kamis (14/12), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) terseret US$0,54 atau 1 persen menjadi US$56,6 per barel. Sementara, harga minyak mentah Brent merosot 1,4 persen atau US$0,9 menjadi US$62,44 per barel.
Data pemerintah AS mencatat stok minyak mentah AS turun 5,1 juta barel sepanjang pekan lalu atau berada di luar perkiraan. Namun, di sisi lain, stok bensin melonjak sebesar 5,7 juta barel, dua kali lipat dari perkiraan yang hanya sebesar 2,5 juta barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, produksi minyak AS berhasil mencetak rekor di level 9,78 juta barel per hari (bph). Level produksi minyak tertinggi yang pernah dicapai AS adalah 10,04 juta bph, yaitu pada November 1970 silam.
Beruntungnya, hal itu juga membantu harga acuan global berada di atas US$65 untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2015 lalu.
Berhentinya operasional Forties telah memberikan harga dasar, namun keuntungan pelaku pasar dengan cepat menguap seiring dengan kondisi pasar yang masih kelebihan penawaran dan kenaikan produksi yang masih terjadi di AS.
"Fakta bahwa aksi jual banyak terjadi di pasar pasca kejadian yang menimpa Forties menunjukkan, pasar sebenarnya berupa keras untuk mengalami tren kenaikan. Pada dasarnya, sekarang kita (pasar) berada di kondisi yang sama dengan sebulan yang lalu," tutur Konsultan Petromatrix Olivier Jacob.
Harga minyak Brent ditopang oleh ekspektasi dari penutupan operasional pipa minyak terbesar Inggris, Forties, dari lapangan minyak dan gas di Laut Utara pasca ditemukannya retakan. Forties merupakan aliran terbesar dari lima aliran minyak yang menopang harga acuan Brent.
Sebagai respons, sejumlah produsen minyak, termasuk BP dan Royal Dutch Shell, menyatakan telah menutup lapangan minyaknya. (bir)