Chief Economist Bank Dunia Frederico Gil Sander mengatakan, indikasi kenaikan daya beli ini bisa terlihat dari turunnya tingkat pengangguran dari 5,6 persen pada Agustus 2016 ke angka 5,5 persen setahun berikutnya. Ini menjadi bukti penciptaan lapangan kerja terjadi, yang memicu penambahan pendapatan.
Memang, menurut dia, indikasi awal berlanjutnya pelemahan daya beli bisa dilihat dari lesunya sektor ritel. Namun, itu tak lantas menjadi indikator. Karena di sisi lain, penjualan mobil dan motor membaik dibanding tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami memang melihat konsumsi melambat di semester I. Biasanya musim lebaran konsumsinya cukup tinggi, nyataya tahun ini tidak demikian. Tetapi, kami melihat ini mulai membaik di kuartal IV,” jelas Frederico, Kamis (14/12).
Hal ini dianggap penting, pasalnya pelemahan daya beli di semester I juga dikontribusi dari penyesuaian tarif listrik bagi golongan 900 Volt Ampere.
“Sebetulnya, kemarin naiknya tidak signifikan, hanya 2,5 persen hingga 3 persen. Tapi, ini sangat berpengaruh kepada rumah tangga yang kelas menengah ke bawah, sehingga mereka tidak punya daya beli bagus. Tapi, memang anggaran perlu direformasi untuk membiayai investasi infrastruktur pemerintah,” katanya.
Sayangnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kuartal sebelumnya tercatat 4,93 persen secara tahunan (year on year). Angka ini melemah apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 4,99 persen. (bir)