REKOMENDASI SAHAM

Siap Menjala Cuan dari Window Dressing Saham Konstruksi

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 09:38 WIB
Siap Menjala Cuan dari Window Dressing Saham Konstruksi Dalam sisa waktu di penghujung 2017, pelaku pasar dinilai masih bisa mengecap keuntungan dari pasar modal dengan memanfaatkan beberapa saham sektor konstruksi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 2017 hanya tersisa sekitar dua pekan lagi. Dalam sisa waktu ini, pelaku pasar dinilai masih bisa mengecap keuntungan dari pasar modal dengan memanfaatkan beberapa saham sektor konstruksi.

Sebab, saham emiten konstruksi diprediksi menjadi salah satu pilihan dalam aksi window dressing pada pekan ini. Hal ini dilakukan demi memoles harga sahamnya sepanjang tahun ini.

Window dressing bisa diartikan sebagai sebuah strategi yang dilakukan oleh perusahaan publik atau manajer investasi demi mempercantik portofolio sepanjang tahun.


Maklum saja, harga saham konstruksi terbilang berdarah-darah di tengah maraknya proyek infrastruktur pemerintah dan pertumbuhan laba serta pendapatan perusahaan.


"Saham sektor konstruksi turun beberapa pekan lalu, jadi nanti akan naik sampai akhir tahun karena window dressing," papar analis Mega Capital Indonesia, Fikri Syaryadi kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (18/12).

Meski aksi window dressing diramalkan masih berlanjut, tetapi Fikri hanya menempatkan dua emiten konstruksi dalam posisi beli (buy), yaitu PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

"Prospek bisnis kedua emiten ini terlihat lebih bagus," terang Fikri.

Menurutnya, proses pembayaran dari proyek yang dimiliki oleh kedua emiten ini terbilang lebih lancar sehingga bisa memperbaiki arus kas perusahaan. Berbeda dengan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) yang belum juga mendapatkan dana dari proyek Light Rail Transit (LRT).

"Mereka kan sudah keluarkan dana tapi uang juga belum kembali," ucap Fikri.


Untuk itu, Fikri menargetkan harga saham Waskita Karya dalam satu pekan ini dapat mencapai Rp2.100 per saham dan Wijaya Karya Rp1.620 per saham.

Bila dibandingkan dengan posisi terakhir, maka harga saham Waskita Karya masih berpotensi tumbuh 1,94 persen dan Wijaya Karya sebesar 1,88 persen.

Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, harga saham Waskita Karya akhir pekan lalu berakhir di level Rp2.060 per saham. Dengan demikian, harga saham perusahaan telah merosot 20,15 persen dari posisi awal tahun di level Rp2.580 per saham.

Sementara itu, harga saham Wijaya Karya anjlok 33,75 persen hingga ke level Rp1.590 per saham, bila dibandingkan dengan harga saham perusahaan pada awal tahun yang berada di level Rp2.400 per saham.

Di sisi lain, analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo menyarankan agar pelaku pasar ikut mencermati saham PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP).

Lucky optimistis saham sektor konstruksi akan menjadi salah sektor unggulan pada tahun 2018. Untuk itu, pelaku pasar akan mulai memasuki saham sektor tersebut di penghujung tahun 2017.

(CNN Indonesia/Hesti Rika

"Sektor ini masih jadi cita-cita pertumbuhan ekonomi, oleh sebab itu pelaku pasar curi start walaupun masih mempertimbangkan juga apakah proyek infrastruktur dapat rampung," ungkap Lucky.

Namun, kondisi kinerja saham PTPP pun terpantau sama seperti dua emiten sektor konstruksi sebelumnya. Pada awal tahun, harga sahamnya masih di level Rp3.770 per saham, tetapi akhir pekan lalu sudah berada di area Rp2.690 per saham. Artinya, harga saham PTPP terkoreksi 28,64 persen sejak awal tahun.

Saham Perbankan Diramalkan Masih Hijau

Selain emiten konstruksi, Lucky juga meramalkan kinerja saham emiten perbankan masih cerah jelang penutupan akhir tahun 2017. Bahkan, kinerja positifnya akan berlanjut hingga tahun 2018.

"Kinerja sektor perbankan cenderung menguat setelah berada dalam teritori uptrend sejak awal tahun 2017," ucap Lucky.

Sementara, emiten perbankan juga mendapatkan sentimen positif dari dalam negeri berupa keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga di level 4,25 persen.

Sehingga, Fikri ikut merekomendasikan emiten sektor perbankan, khususnya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

"BTN juga kan kemarin masuk indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International/MSCI)," tutur Fikri.


Dengan masuk dalam MSCI Indonesia Index, otomatis saham BTN semakin dilirik oleh pelaku pasar asing. Seperti diketahui, indeks tersebut bakal menjadi acuan bagi pelaku pasar asing dalam bertransaksi di pasar modal.

"Jadi peminatnya bukan hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri," sambung Fikri.

Selanjutnya, harga saham BCA masih akan didorong oleh pertumbuhan penyaluran kredit, khususnya kredit konsumer yang meningkat 20,6 persen pada kuartal III 2017 menjadi Rp128,3 triliun.


"Kredit konsumer BCA saya pikir yang terbaik," ucap Fikri.

Terpantau, harga saham BTN dan BCA kompak bergerak stagnan pada perdagangan akhir pekan lalu. BTN ditutup di level Rp3.370 per saham dan BCA di level Rp21.100 per saham.

Adapun, Fikri memproyeksi harga saham BCA tumbuh 1,65 persen ke level Rp21.450 per saham dan BTN 2,37 persen ke level Rp3.450 per saham. (gir/gir)