Kenaikan Fitch Ratings, Buah Reformasi Kebijakan Ekonomi

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 21/12/2017 12:09 WIB
Kenaikan Fitch Ratings, Buah Reformasi Kebijakan Ekonomi Kenaikan peringkat Fitch ini melengkapi kenaikan indeks kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EODB) RI hingga 37 peringkat dalam dua tahun terakhir. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution semringah dengan naiknya peringkat risiko surat utang Indonesia dari BBB- (triple B minus) ke BBB (triple B) dengan prospek stabil dari Fitch Ratings. Darmin mengklaim, kenaikan peringkat sebagai buah dari reformasi kebijakan ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai contoh, Darmin mengutip laporan Fitch Ratings yang meyebut bahwa Indonesia berhasil mengerek indeks kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EODB) hingga 37 peringkat dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, ia juga menyambut gembira Fitch Ratings yang mengapresiasi ketahanan cadangan devisa Indonesia yang ada di angka US$126 miliar per November 2017.


Reform (reformasi) yang kami buat, ternyata mereka (Fitch Ratings) dukung. Intinya, mereka melihat daya tahan Indonesia terhadap guncangan dan memang Indonesia termasuk negara yang mampu meredam dan meng-absorb kalaupun ada guncangan dari perekonomian dunia setelah krisis 19 tahun yang lalu,” terang Darmin, Kamis (21/12).

Ia melanjutkan, peringkat ini cenderung lebih baik dibanding negara-negara yang satu kelompok pendapatan dengan Indonesia, seperti Turki dan India. Meski demikian, pemerintah enggan berpuas diri. Sebab, Indonesia masih memiliki banyak tantangan untuk memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah adalah menurunkan angka pengangguran dan mengurangi tingkat ketimpangan. Pemerintah sendiri menargetkan tingkat kemiskinan bisa ditekan dari 10,64 persen dari populasi ke 10 persen di tahun depan serta mengurangi koefisien gini dari 0,393 ke angka 0,38.

“Ini semua hanya bisa diatasi dengan kombinasi kebijakan yang sudah disiapkan dalam tiga tahun terakhir. Infrastruktir, kebijakan sektoral, pariwisata, dan lain-lain, kemudian kebijakan pemerataan ekonomi itu semua terus menerus dipertajam dan dikembangkan,” paparnya.

Ia berharap, kenaikan peringkat ini bisa menambah kepercayaan investor dan pasar modal di Indonesia begitu memasuki masa-masa tahun politik. Namun, ia tidak bisa menilai apakah kenaikan peringkat Fitch Ratings ini juga akan diikuti oleh Moody’s dan Standard and Poor (S&P).

“Setiap waktu, dua kali setahun pasti mereka (Moody’s dan S&P) melakukan review (kajian). Kami memang baru menerima penilai dari Fitch 1,5 bulan yang lalu, cuma kami tidak bilang-bilang saja. Kami sudah membahas dengan mereka seperti apa kinerja ekonomi Indonesia. Namun, data indikator mereka berbeda (dengan Fitch Ratings), mereka punya irama sendiri,” imbuh dia.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings telah meningkatkan peringkat risiko utang jangka panjang valas dan rupiah menjadi BBB dari sebelumnya BBB-. Tak hanya itu, Fitch juga memberikan prospek peringkat utang di posisi stabil.

Adapun, peringkat ini dilandasi beberapa alasan. Pertama, Indonesia dianggap cukup tahan akan gejolak eksternal akibat kebijakan makroekonomi yang konsisten, sehingga mampu mengurangi gejolak dana keluar (capital outflow).

Kedua, Fitch Ratings juga melihat kenaikan peringkat EODB yang bisa berdampak pada pendanaan eksternal yang lebih kuat seiring meningkatnya Penanaman Modal Asing (PMA) dan diharapkan bisa menutup defisit neraca berjalan dalam beberapa waktu mendatang. (bir)


BACA JUGA