Direktur LMAN Rahayu Puspasari mengatakan, penerimaan ini didapatkan dari aset-aset yang dikelola oleh instansinya. Adapun, sumbangan PNBP terbesar diperoleh dari aset kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) Bontang yang disewakan kepada PT Badak NGL dengan angka Rp180,06 miliar.
Selain kilang LNG di Bontang, sumbangan terbesar berikutnya datang dari kilang LNG Arun dengan besaran Rp56,96 miliar. Sementara itu, aset Hak Tanggungan Bank Indonesia (HTBI) berupa properti menyumbang Rp12,88 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari seluruh aset kelolaan LMAN, ia menaruh perhatian pada aset berupa properti. Menurut catatannya, imbal hasil aset properti sebesar Rp12 miliar di tahun pertama diperoleh dari membayar aset sebesar Rp26 miliar.
Sebagai contoh, LMAN pernah mendapatkan aset properti berupa ruko dengan kondisi nyaris ambruk senilai Rp26,7 miliar, namun bangunan itu dipugar dan menghasilkan capital gain sebesar Rp201 miliar.
“Di sini, memang kami membantu agar aset yang kami kelola bisa lebih optimal, sehingga menjadi alternatif lain bagi sumber penerimaan negara,” ungkapnya.
Meski angkanya cukup agresif, namun Rahayu yakin target tersebut bisa tercapai. Sebab, LMAN masih akan menambah kelolaan aset properti di tahun depan.
Ia mencontohkan, LMAN kini sedang memugar kembali sebuah bangunan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, untuk dijadikan pusat bisnis oleh salah satu lembaga pemerintah.
“Selain dari properti, kami juga mengharapkan peningkatan PNBP dari kilang LNG Arun dan Bontang di kuartal I 2018 dengan nilai masing-masing Rp91,2 miliar dan Rp92 miliar,” terang dia.
Di dalam APBNP 2017, penerimaan negara ditargetkan bisa mencapai Rp1.736,06 triliun yang diharapkan bisa mendanai belanja negara sebesar Rp2.133 triliun.
Adapun, penerimaan dari PNBP diharapkan bisa berkontribusi sebesar Rp260,2 triliun terhadap target penerimaan tersebut. (bir)