"Anggarannya sudah kami buat perkiraan, pokoknya ada angkanya. Yang pasti, lebih dari Rp1 triliun," ujarnya, mengutip Antara, Kamis (4/1).
Ia menuturkan, Bappenas akan mengembangkan skema pembiayaan melibatkan pihak swasta, sehingga ongkos pemindahan ibu kota tidak hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bappenas, sambung dia, telah menyerahkan kajian awal terkait rencana pemindahan ibu kota kepada Presiden Joko Widodo, Rabu (3/1) kemarin.
Menurutnya, ketiga kandidat wilayah tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagaimana yang dijabarkan pada kajian tersebut.
"Indikatornya, mengenai luas lahan yang tersedia, yang sudah bebas artinya tidak perlu ganti rugi. Kemudian, dimensi kebencanaan seberapa tinggi risiko bencananya. Ketiga, ketersediaan infrastruktur, ya, infra di sekitar wilayah tersebut. Meski, kami membangun kota baru, tapi akan lebih efisien natinya kalau kota baru tersebut jaraknya tidak terlalu jauh dari infrastruktur yang dibutuhkan," tutur Bambang.
"Nanti itu bapak Presiden yang memutuskan apa yang dilakukan berikutnya. Kalau kami tetap melakukan kajian mulai lebih detail, termasuk bagaimana kondisi tanah, bagaimana akses untuk pembangunannya dan segala macam," ucap Bambang.
Selain itu, ia menyebut bahwa komitmen pemerintah dan dukungan politik juga sangat penting agar rencana pemindahan ibukota dapat terealisasi lebih cepat.
Lihat juga:Bappenas Kaji Tiga Kandidat Ibu Kota Baru RI |
Pemindahan ibu kota diperlukan mengingat Indonesia perlu menciptakan pusat perekonomian baru yang selama ini terpusat di Jakarta khususnya, dan Pulau Jawa pada umumnya.
Salah satu daerah yang menjadi kandidat kuat pemindahan ibu kota negara yang sempat mencuat, yaitu Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, yang juga sempat menjadi kandidat ibu kota pada era Presiden Soekarno. (antara/bir)