Analis Oso Sekuritas Riska Afriani mengungkapkan, pertumbuhan harga dua komoditas ini akan berdampak positif pada emiten berbasis batu bara, seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
“Harga minyak dunia sudah tembus US$60 per barel,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, harga batu bara saat ini berada di kisaran US$80 - US$90 per metrik ton. Diperkirakan, harga batu bara masih akan stabil di level tersebut pada pekan ini. “Kemudian, saham pertambangan juga menarik secara teknikal,” kata Riska.
"Meskipun sudah tinggi, nanti menguat lagi. Ada aksi ambil untung dulu, satu hingga dua hari, tapi setelah itu kembali lagi," terang dia.
Dengan kenaikan beberapa saham pertambangan yang memiliki nilai kapitalisasi pasar besar (big capitalization/big cap) di sektornya, indeks sektor pertambangan bangkit (rebound) pada pekan lalu ke level 1.674,302 jika dibandingkan pekan sebelumnya di level 1.593,999.
Kenaikan harga minyak dan batu bara disebut menjadi penglaris saham emiten pertambangan pekan ini, seperti Adaro Energy dan Bukit Asam. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Safir Makki). |
Sektor lainnya yang patut diperhatikan pelaku pasar pekan ini, yaitu sektor perbankan, khususnya bank-bank pelat merah, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI).
"Prediksi saya cukup positif, mengingat target pertumbuhan kredit tahun ini 10 persen sampai 12 persen," tutur Riska.
Bila penyaluran kredit tumbuh, maka akan berimbas positif pada kinerja keuangan perbankan. Selain itu, perbankan juga akan mendapatkan rezeki tambahan dari kebutuhan pembiayaan proyek infrastruktur yang sedang dikebut oleh pemerintah.
Lihat juga:Waktunya Lirik Saham Lapis Dua |
Kebetulan, harga ketiga saham perbankan yang masuk dalam rekomendasi sempat terkoreksi selama pekan lalu.
BNI memimpin pelemahan tersebut dengan persentase 4,85 persen ke level Rp9.300 per saham. Diikuti oleh BRI yang turun 1,1 persen dan Bank Mandiri merosot 0,31 persen.
Murah 'Meriah', ICBP dan INDF Berpotensi Naik
Kemudian, pelaku pasar juga bisa mencari keuntungan dari saham berbasis barang konsumsi sepanjang pekan ini. Bahkan, saham sektor tersebut juga bisa dijadikan investasi jangka panjang.
"Belum naik tinggi, (harga saham) INDF dan ICBP masih murah," katanya.
Akhir pekan lalu, harga saham Indofood Sukses Makmur masih terkoreksi 0,65 persen ke level Rp7.675 per saham. Namun, kondisi yang berbeda terjadi pada Indofood CBP Sukses Makmur yang justru menguat 1,64 persen ke level Rp9.275 per saham.
Lihat juga:Menggali Cuan Lewat Fintech Pinjam-Meminjam |
Mengutip laporan keuangan perusahaan pada kuartal III 2017, laba bersih Indofood Sukses Makmur naik 1,2 persen menjadi Rp3,28 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp3,24 triliun.
Sementara, anak usahanya, Indofood CBP Sukses Makmur membukukan laba bersih sebesar Rp3,04 triliun atau naik 7,4 persen dari Rp2,83 triliun. (bir)
Kenaikan harga minyak dan batu bara disebut menjadi penglaris saham emiten pertambangan pekan ini, seperti Adaro Energy dan Bukit Asam. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Safir Makki).