Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, langkah ini diambil pengusaha seiring kebutuhan masyarakat akan leisure economy yang semakin meningkat.
Menurut dia, saat ini orang pergi ke luar rumah tak hanya untuk belanja kebutuhan, tetapi ingin merasakan pengalaman berbelanja.
Dalam hal ini, Ia memberi contoh supermarket yang kini mulai melengkapi gerainya dengan toko kopi hingga wahana permainan anak-anak. Setiap gerai ritel mungkin menjual produk yang sama, tetapi masing-masing usaha menawarkan pengalaman yang berbeda-beda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan karena bangkrut, namun pengusaha akan merelokasi gerainya ke tempat yang lebih luas agar bisa membangun sarana leisure tambahan. Tak hanya itu, pengusaha juga tentu berniat mencari pasar baru yang memiliki konsumen potensial.
“Saat ini memang ritel harus berinovasi mengikuti perkembangan zaman. Dua atau tiga tahun lalu, mungkin kondisi seperti ini belum terpikirkan,” jelas dia.
Ia juga berharap, perubahan konsep ritel ini bisa membawa pertumbuhan sektor ritel mencapi angka 9 hingga 10 persen secara tahunan (year-on-year) seperti tahun 2016 silam.
Selain itu, momen Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak, serta tidak berubahnya harga listrik Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik, dinilai bisa menjadi sentimen positif bagi pertumbuhan sektor ritel tahun ini.
Sebelumnya, berdasarkan survei Nielsen di tahun 2017, pertumbuhan konsumsi akan leisure dan gaya hidup meningkat 25 persen di kelompok berpendapatan tinggi, 24 persen di kelompok berpendapatan rendah, dan 34 persen di kelompok berpendapatan menengah.
Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan konsumsi produk industri barang konsumsi kemasan (Fast Moving Consumer Good/FMCG) yang hanya 2 persen hingga 5 persen di periode yang sama. (gir/bir)