Aprindo: Gangguan e-Commerce ke Industri Ritel Sangat Kecil

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Kamis, 11/01/2018 20:43 WIB
Aprindo: Gangguan e-Commerce ke Industri Ritel Sangat Kecil Berkembangnya bisnis e-commerce di Indonesia serta ekspektasi pemerintah yang sangat tinggi membuat banyak yang percaya disrupsi industri ritel ke e-commerce sangat besar. (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Berkembangnya bisnis e-commerce di Indonesia serta ekspektasi pemerintah yang sangat tinggi membuat banyak yang percaya disrupsi industri ritel ke e-commerce sangat besar. Namun hal itu disanggah Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) yang menilai pengaruh guncangan terhadap pasar ritel sangat kecil.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, hanya sekitar 1,4 persen dari kapitalisasi pasar ritel konvensional (offline) yang kena disrupsi digital pada 2017. Secara angka, dari total nilai pasar ritel di Indonesia mencapai US$320 juta tahun lalu. Sedangkan yang dicapai oleh e-commerce baru sekitar US$4,89 juta.

Dalam hal pertumbuhan, Roy mengaku e-commerce menanjak cukup cepat. Dua tahun lalu misalnya, pertumbuhan sebesar 0,72 persen, dan tahun lalu sebesar 1,4 persen. Sementara untuk tahun ini, e-commerce diprediksi bisa tumbuh hingga 2-2,5 persen.

"Artinya, pertumbuhannya memang signifikan. Tetapi mereka punya dampak terhadap offline itu masih kecil," ucap Roy yang ditemui di Balai Kartini, Kamis (11/1).


Roy juga bercerita sebagian besar anggota Aprindo memakai pendekatan dalam jaringan (online) sebagai bentuk adaptasi pasar. Ia mengklaim dari 600 anggota Aprindo, mencapai 90 persen di antaranya sudah memiliki toko online.

Roy meyakini bahwa industri ritel akan tetap hidup di tengah gempuran e-commerce. Namun ia mengaku pelaku industri ritel harus beradaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen terutama para generasi langgas (milenials).

Kecuali kasus Seven Eleven, Aprindo menampik penutupan beberapa gerai di 2017 kemarin sebagai contoh gamangnya industri ritel terhadap e-commerce. Menurut Roy, langkah penutupan gerai hanya sebagai relokasi belaka. Relokasi diambil guna mengubah model bisnis dan menggenjot pendapatan mereka.

"(Gerai) yang relokasi banyak ya, mulai grupnya Mitra Adi Perkasa, grupnya Matahari, dan Ramayana," imbuh Roy. (lav/lav)