Lawan Perang Dagang, China Ancam Jual Obligasi AS Miliknya

Lavinda , CNN Indonesia | Jumat, 12/01/2018 19:50 WIB
Lawan Perang Dagang, China Ancam Jual Obligasi AS Miliknya China merupakan kreditur asing terbesar untuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja).
Jakarta, CNN Indonesia -- China merupakan kreditur asing terbesar untuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. Akankah Negeri Tirau Bambu menghambat aliran dana dari keran surat utang ke Negeri Paman Sam?

Investor obligasi semakin khawatir dengan kebijakan China yang selama ini menjadi penggenggam sebagian besar surat utang negara AS yang biasa dikenal dengan US Treasury tersebut.

Sebuah laporan yang dikutip dari CNN.com menyebutkan, China akan mengkaji kembali nilai kepemilikan surat utang pemerintah AS yang dibeli di pasar. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang kelanjutan hubungan antara kedua negara ekonomi terbesar di dunia itu, setelah sempat memanas karena persoalan perdagangan.

Kronologi yang perlu diketahui :
Apa yang terjadi?
Dalam sebuah laporan pada Rabu (10/1) dari seorang sumber yang terkait dengan persoalan tersebut, pemerintah China disebut-sebut berniat mengurangi jumlah utang pemerintah AS yang dibelinya.

Artikel tersebut dengan cepat menyebabkan aksi jual di pasar obligasi Treasury AS. Namun pada Kamis (11/1), lembaga di China yang mengelola kepemilikan mata uang asing meragukan laporan tersebut.

"Kami percaya bahwa pernyataan itu mungkin mengutip sumber yang salah,atau informasi palsu," kata State Administration of Foreign Exchange dalam sebuah pernyataan, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, bantahan tersebut tetap membuat pasar anjlok, dan tak mendorong harga treasury AS kembali bangkit.

Bagaimana gambaran besarnya?

China memiliki sejumlah besar utang pemerintah AS. Data terakhir dari Departemen Keuangan mencatat sekitar US$1,2 triliun dan beberapa perkiraan lembaga independen menunjukkan bahwa nilainya bisa lebih tinggi lagi. Namun, tingkat pembelian Beijing melambat untuk sementara waktu.

Pasokan China yang besar di pasar utang AS merupakan produk sampingan dari sejumlah besar produk perdagangan yang dijualnya ke pihak Amerika Serikat.

Sejumlah dana yang dikeluarkan untuk produk-produk ini akhirnya menemukan jalan ke bank sentral China, dan akhirnya digunakan pedagang untuk membeli obligasi AS.

Pembelian obligasi AS menyebabkan nilai tukar dolar menguat terhadap yuan, dan telah membantu ekspor China dalam beberapa waktu terakhir.

Para investor khawatir jika China mengurangi pembelian obligasi AS, maka pemerintah AS harus mencari investor baru. Bahkan perlu meningkatkan tingkat bunga untuk menarik minat investor. Pada akhirnya, beban bunga utang AS akan meningkat lebih dari tingkat saat ini yang sebesar US$20 triliun.

Biaya utang yang lebih tinggi berdampak buruk, termasuk mengganggu alokasi belanja lain. Di sisi lain, bisnis dan konsumen juga berpotensi menghadapi beban biaya pinjaman yang lebih tinggi. Semua ini akan berpengaruh pada ekonomi AS, dan menyebabkan perlambatan aktivitas ekonomi.

Mengapa China melego surat utang AS?

Beberapa pakar pasar berspekulasi bahwa China ingin memberi sinyal kepada Presiden Trump terkait persoalan perdagangan.

Analis memperkirakan Trump justru akan melakukan tindakan lebih keras terhadap China dalam beberapa bulan mendatang, yang berpotensi memicu perang dagang. Pemerintahan AS bisa memberlakukan tarif impor baja, aluminium dan panel surya, yang akan melukai produsen China.

"Kemudahan dalam pembelian obligasi akan menjadi sebuah pukulan untuk memperingatkan pemerintahan AS," kata Marc Chandler, Ahli Strategi Mata Uang di perusahaan investasi Brown Brothers Harriman.

Ahli lainnya meragukan gagasan China yang akan menggunakan obligasi untuk bermain politik.

"Sangat tidak mungkin China akan mengurangi pembelian obligasi AS untuk memberi peringatan kepada pemerintah Trump terhadap tindakan perdagangan yang agresif," kata Michael Hirson, Direktur Konsultan Risiko Politik Eurasia Group.

Dia menambahkan, aksi jual obligasi yang didorong oleh kepentingan politik akan mengancam pertumbuhan ekonomi global. Hal itu tentu merupakan berita buruk bagi China dan industri ekspor besarnya.

Penjualan tiba-tiba juga akan memukul nilai kepemilikan obligasi China yang besar dan menghentikan pelemahan yuan terhadap dolar.

China sudah merasa aman dengan nilai tukar yuan yang lemah dalam beberapa tahun terakhir. Namun mereka juga berfokus menjaga agar mata uangnya tetap stabil.

"Sulit untuk melihat bagaimana China akan muncul dari skenario ini lebih baik," kata Mark Williams, Kepala Ekonom Asia di firma riset Capital Economics.
(CNN.com/bir)