Menko Darmin Tuding AS dan Korut Penyebab Rupiah Loyo

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Rabu, 29/11/2017 15:58 WIB
Menko Darmin Tuding AS dan Korut Penyebab Rupiah Loyo Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut nilai tukar rupiah yang telah melemah lebih dari Rp13.500 terhadap dolar Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut nilai tukar rupiah yang telah melemah lebih dari Rp13.500 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akibat kondisi ekonomi dan politik global yang tidak kondusif.

Salah satunya disebabkan sentimen negatif bagi global atas rencana Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan pajak perorangan dan perusahaan. Meski belum disetujui, tetapi rencana ini cukup kuat mempengaruhi rupiah.

"Ini berawal dari Donald Trump aneh-aneh mau turunkan pajak," ucap Darmin, Rabu (29/11).



Dari sisi politik, uji coba Korea Utara yang menembakkan rudal balistik jarak jauh dan mendarat di lepas pantai Jepang juga memicu kekhawatiran masyarakat atas kondisi hubungan internasional. Menurut Darmin, hal itu akhirnya memicu pelemahan nilai tukar rupiah.

"Orang mulai takut, kemudian rupiah bergerak," imbuh Darmin.

Namun, Darmin menyimpulkan, nilai tukar rupiah tidak akan semakin tersungkur dari posisi saat ini karena tidak ada lagi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah, khususnya dari dalam negeri.


"Jadi sebenarnya tidak ada apa-apa, tidak ada yang buat dia berubah lagi," jelas Darmin.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah hari ini berada di posisi Rp13.515 per dolar AS. Angka itu sebenarnya sudah lebih baik bila dibandingkan dengan data JISDOR kemarin sebesar Rp13.527 per dolar AS.

Sementara itu, Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM Jameel Ahmad menyatakan, pergerakan rupiah ini memang dipengaruhi oleh reformasi pajak AS.

Dalam risetnya awal pekan ini, Donald Trump telah melakukan pertemuan dengan senator untuk membicarakan reformasi pajak tersebut.

"Jika mengalami penundaan, maka rupiah berpeluang menguat," kata Jameel.

(lav/bir)