Pertamina Tunjuk Mitra Garap Kilang Bontang

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 30/01/2018 21:13 WIB
Pertamina Tunjuk Mitra Garap Kilang Bontang Pertamina telah menentukan calon mitra untuk pembangunan kilang Bontang, yang merupakan konsorsium perusahaan minyak asal Oman dan Jepang. (REUTERS/Raheb Homavandi)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Pertamina (Persero) telah menentukan calon mitra untuk pembangunan kilang Bontang, Kalimantan Timur. Calon mitra terpilih merupakan konsorsium dari perusahaan minyak asal Oman, Overseas Oil and Gas LLC (OOG) yang menggandeng perusahaan trading Cosmo Oil International Pte Ltd (COI), unit pemasaran perusahaan pengolahan minyak Jepang, Cosmo Energy Group.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ardhy N Mokobombang mengungkapkan, nilai proyek pembangunan kilang baru ini (grass root refinery/ GRR) diperkirakan mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp130 triliun.

"Korsosium OOG dan COI ini akan membangun kilang di Bontang dengan kapasitas 300 ribu barel per hari dan investasi sebesar US$10 miliar," ujar Ardhy dalam konferensi pers di kantor pusat Pertamina, Selasa (30/1).


Proses pemilihan calon mitra dilaksanakan berdasarkan skema penugasan pemerintah melalui Keputusan Menteri ESDM 7935 K/10/MEM/201 tanggal 9 Desember 2016.

Proses seleksi dijalankan sejak Januari 2017. Awalnya, jumlah perusahaan yang mendaftar sekitar 100 perusahaan. Setelah tahapan seleksi awal, paparan proyek, hingga tahap Permintaan Informasi dan Lokakarya, perseroan mendapatkan delapan calon mitra potensial.
Selama proses seleksi tersebut, perseroan mengajukan sejumlah syarat kepada calon mitra. Syarat tersebut, antara lain, perubahan struktur bisnis GRR Bontang kepada mitra bisnis potensial tersebut. Perseroan mensyaratkan bahwa perseroan tidak ikut mendanai proyek, tetapi tetap mendapat minimal sepuluh persen saham dari proyek tanpa mengeluarkan biaya.

Selain itu, perseroan juga menyampaikan perubahan struktur bisnis terkait dengan simpanan dana yang dilakukan oleh mitra; hak pemasokan minyak mentah, di mana Pertamina mendapat jatah 20 persen untuk memasok minyak mentah GRR Bontang; serta pembagian hasil produksi (product offtake), di mana perseroan tidak memberikan jaminan offtake serta perseroan bersedia bekerjasama untuk melakukan penggabungan pemasaran (joint marketing). Ternyata, dari proses tersebut hanya dua calon mitra yang menyatakan kesanggupannya.

Perseroan memilih OOG sebagai mitra strategi dengan beberapa pertimbangan. OOG, antara lain, mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah Oman dalam hal pendanaan proyek dan penyediaan pasokan minyak mentah, serta memiliki kemitraan strategis dengan COI dalam hal dukungan teknis dan pemasaran produk.

Selanjutnya, perseroan dan mitra terpilih bakal menandatangani perjanjian kerangka kerja (Framework Agreement) secepatnya yang akan dilanjutkan dengan studi kelayakan (FS) yang bakal selesai pada pertengahan 2019, dan dilanjutkan dengan penyusunan engineering package (FEED) hingga akhir 2020.
Jika berjalan sesuai rencana, kilang Bontang akan mulai berproduksi pada tahun 2025. Adapun produk utama yang dihasilkan, berupa gasoline dan diesel.

Tak hanya itu, pembangunan kilang juga diperkirakan bakal memberikan lapangan pekerjaan hingga lebih dari 20 ribu orang saat proyek pembangunan dan sekitar 1.600 orang saat kilang sudah beroperasi.

Direktur Perencanaan Investasi & Manajemen Risiko Gigih Prakoso menambahkan, minimnya porsi kepemilikan perseroan bukan berarti perseroan kehilangan kendali. Pada tahap awal, perseroan ingin memberikan fleksibilitas kepada mitra dalam melakukan kajian awal.

"Kami ingin memberikan fleksibilitas kepada mitra untuk bisa melakukan kajian sesuai dengan pengalaman mitra. Artinya kami tidak ikut terlalu mengontrol," ujar Gigih. (agi/agi)