Balapan Konglomerat Lewat Angkutan Online

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 13/02/2018 16:59 WIB
Balapan Konglomerat Lewat Angkutan Online Bergabungnya Grup Astra dan Grup Djarum investasi ke Gojek menambah daftar konglomerat yang berkecimpung di sektor layanan transportasi online. (Dok. Astra International)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bergabungnya PT Astra International Tbk (ASII) dan Grup Djarum dalam konsorsium yang menyuntikan dana segar untuk Gojek menambah daftar konglomerat yang terjun ke sektor layanan transportasi berbasis aplikasi daring (online) di Indonesia.

Astra International, emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 1990 ini baru saja menanamkan modal sebesar US$150 juta atau sekitar Rp2 triliun kepada Gojek. Hal itu diikuti dengan Grup Djarum melalui PT Global Digital Prima (GDP) Ventures.

GDP Ventures juga membawahi PT Global Digital Niaga (GDN) atau pengelola BliBli.com. Dengan kata lain, ini bukan pengalaman baru bagi Grup Djarum untuk masuk ke dalam bisnis startup, karena sudah lebih dulu memiliki BliBli.com, yang bergerak di sektor e-commerce.

Direktur Utama Gojek, Nadiem Makarim masih enggan menyebutkan secara pasti total suntikan dana dari konsorsium yang terdiri dari puluhan investor tersebut. Namun, ia memastikan Astra International menjadi investor yang menanamkan dana terbesar dari total keseluruhan.


"Nominal Astra International terbesar, tapi saya tidak bisa sebut total keseluruhan," ucap Nadiem kemarin, Senin (13/2).

Sementara, Direktur Utama Astra International, Prijono Sugiarto mengatakan, pihaknya dan Gojek memang telah melakukan pendekatan sejak tiga tahun lalu. Kala itu, Prijono tertarik dengan semangat anak muda seperti Nadiem dan Andre Soelistyo selaku Presiden dan Co-Founder Gojek ketika datang menemui Prijono.

"Jadi mereka datang, mereka usianya beda tipis dengan anak saya tapi semangatnya tinggi sekali untuk memajukan ini (Gojek)," cerita Prijono.

Selanjutnya, kedua petinggi Gojek itu kembali menemui Prijono pada akhir tahun 2017 dan awal tahun 2018 ini untuk mengajak Astra International bergabung dalam penggalangan dana (fundraising) yang dilakukan secara konsorsium oleh puluhan investor.

"Kami memang sudah kepincut, jadi kami ikut berkolaborasi," tutur Prijono.

Sementara, Direktur Utama Global Digital Niaga, Kusumo Martanto menyatakan, kerja sama keduanya akan bergerak di berbagai sektor, seperti logistik, pembayaran, dan e-commerce lewat Blibli.com.

"Ada banyak kesamaan antara GDN dan Gojek yang bisa dikolaborasikan dalam hal membuka akses yang semakin luas bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi digital," ungkap Kusumo.

Keikutsertaan GDN di konsorsium penggalangan dana untuk Gojek bukanlah kerja sama perusahaan yang pertama bersama Gojek. Sebelumnya GDN telah berkolaborasi bersama anak usaha GDN, yakni Blibli.com terkait pengiriman barang melaui Gosend.

Balapan Konglomerat di Angkutan Online(Dok. Grab)

Lippo dan Emtek Lebih Dulu 'Nge-Grab'

Sementara, Grup Lippo dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk atau Emtek juga sudah lebih dulu menjajal bisnis transportasi online. Dalam hal ini, Grup Lippo menjadi yang pertama masuk atau tepatnya pada tahun 2016 lalu.

Saat itu, Grup Lippo ikut serta dalam penggalangan dana secara konsorsium untuk Grab. Sementara, melalui lini bisnis startup di sektor e-commerce nya bernama Mataharimall, Grup Lippo menggandeng Grab untuk menjadi penyedia layanan kurir untuk Mataharimall.


Kerja sama semakin berkembang pada tahun lalu, di mana Grab berkolaborasi dengan dompet digital milik Grup Lippo bernama OVO. Hal ini dilakukan setelah Bank Indonesia (BI) tak juga merilis aturan uang elektronik bagi Grab sehingga layanan Grabpay sempat tak bisa digunakan sejak 16 Oktober 2017.

Sementara, dalam laporan keuangannya, Emtek tercatat memiliki saham Grab melalui anak usahanya, PT Kreatif Media Karya (KMK) sejak April 2017.

Jumlah saham yang dimiliki memang tidak besar, yakni hanya 0,25 persen atau 1.684.455 lembar saham. Namun, investasi ini lagi-lagi menambah deretan bisnis startup Emtek, setelah Bukalapak dan Lakupon.

Dalam riset yang dilakukan oleh Daily Social, Gojek menjadi aplikasi transportasi dengan permintaan terbanyak sepanjang tahun 2017, yakni 85,22 persen. Sementara, Grab berada di posisi kedua dengan persentase 66,24 persen dan Uber sebesar 50,06 persen.

Tak hanya sebagai alat transportasi, bahkan layanan Gojek lainnya juga diminati, misalnya Gosend, Gofood, dan Goclean. Dengan demikian, Gojek masih menjadi pemimpin di bisnis startuo, khususnya ride sharing.

Riset tersebut juga menyebutkan, total investasi untuk startup sepanjang tahun 2017 sekitar US$3 miliar. Bila dirinci, tiga startup yang masuk dalam kategori unicorns seperti Gojek, Tokopedia, dan Traveloka mendapatkan suntikan dana dengan total US$1,6 miliar-US$2,8 miliar. Khusus Gojek saja, dana investasi yang tercatat sebesar US$1,2 miliar.

Balapan Konglomerat di Angkutan Online(CNN Indonesia/Safir Makki)

Kontribusi Untung Startup Rendah


Analis Bahana Sekuritas, Muhammad Wafi mengungkapkan, investasi kepada startup umumnya hanya dilakukan oleh grup perusahaan atau emiten yang memiliki aset cukup banyak, seperti beberapa grup perusahaan atau emiten yang sebelumnya disebutkan.

"Ini karena prospek keuntungannya tidak dalam jangka pendek, tapi jangka panjang," terang Wafi.

Bahkan, nominal keuntungan yang diraih perusahaan pun sebenarnya terbilang sangat kecil atau tak sampai 5 persen. Hal ini karena kontribusi pendapatand dari masing-masing inti bisnis perusahaan masih menjadi mayoritas, misalnya saja seperti Astra International yang fokus pada penjualan mobil.

"Tidak besar memang kontribusinya, kemudian jumlah modal yang diberikan kepada startup juga besar kan," ucap Wafi.

Lebih lanjut, ia memperkirakan, keuntungan yang diraih oleh suatu perusahaan yang meyuntikan modalnya untuk startup baru akan diraih minimal lima tahun. Namun demikian, ia menyebut bisnis digitalisasi ini memang memiliki prospek yang cerah untuk masa depan.

"Prospeknya memang bagus, tapi kalau untuk tahun berjalan tidak akan terlalu berdampak," jelas Wafi.


Maka dari itu, harga saham emiten yang melakukan kerja sama dengan startup tidak lantas menguat signifikan untuk jangka panjang. Hal itu tercermin dalam pergerakan saham Astra International.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, harga saham perusahaan tersebut stagnan pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (13/2), di level Rp8.200 per saham. Padahal, hari itu diumumkan investasi Astra International untuk Gojek.

Harga saham pada pembukaan tadi pagi, Selasa (13/2), juga terpantau di level Rp8.200 per saham. Namun, pada penutupan perdagangan sesi I ini harga saham perusahaan naik 1,22 persen ke level Rp8.300 per saham.

"Secara fundamental tidak berpengaruh, harga saham naik karena sedang bangkit (rebound) saja," imbuhnya. (gir/bir)