Sri Mulyani Tegaskan Bos IMF Tak Datang untuk Beri Utang

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 13:09 WIB
Sri Mulyani Tegaskan Bos IMF Tak Datang untuk Beri Utang ana Moneter Internasional (IMF) bersama dengan Bank Indonesia mengadakan konferensi internasional tingkat tinggi (High-Level International Conference). (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan kunjungan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Christine Lagarde selama delapan hari di Indonesia bukan dalam rangka meminjamkan dana ke Indonesia.

Menurutnya, kunjungan Lagarde hanya merupakan rangkaian dari persiapan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia yang akan diselenggarakan di Bali, Oktober 2018.

Sri Mulyani bilang ini sekaligus mengklarifikasi beberapa pertanyaan yang kerap diajukan pengikutnya di akun media sosialnya. Alih-alih berutang, pemerintah malah memaparkan beberapa kemajuan di bidang ekonomi yang selama ini dicapai di bawah pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Di media sosial ada yang bertanya, 'untuk apa Bos IMF datang ke sini apa mau ngasih utang' saya jawab tidak," ungkap Sri Mulyani, Selasa (27/2).


Ia melanjutkan, pemerintah bahkan senang untuk menjelaskan kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Jika ada tantangan dalam penerapan kebijakan, pemerintah pun tak segan untuk meminta masukan dari Lagarde.

"Kami bahkan senang untuk menjelaskan karena kami tahu apa yang ingin dituju dan policy yang baik ini tidak mudah dihasilkan, sehingga kami senang untuk terbuka kepada dunia," imbuh dia.

Dalam kesempatannya ke Indonesia, Lagarde memuji Indonesia karena telah berhasil menurunkan angka kemiskinan sebesar 40 persen dan meningkatkan 6 persen angka harapan hidup dalam dua dekade terakhir.

Tak hanya itu, ia juga memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,3 persen di tahun 2018 dan bisa menanjak dalam jangka menengah.

Hanya saja, ia memperingatkan Indonesia terkait kondisi eksternal yang kian tak menentu dan dampaknya terhadap dunia usaha, pendapatan, dan pencipataan lapangan pekerjaan. Salah satu sentimen global yang perlu diwaspadai Indonesia adalah kebijakan normalisasi suku bunga acuan di negara-negara berkembang.

"Kami sudah paham bahwa sentimen ini akan datang, tapi tetap saja masih ada ketidakpastian yang membayangi negara-negara berkembang termasuk Indonesia," ujar dia. (lav/bir)