Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Plt Dirjen Migas) Kementerian Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial memproyeksi masih ada peluang penurunan ICP lebih lanjut dari posisinya sekarang.
"Sekarang saja (ICP) sudah mulai turun walau kecil," ujar Ego di Gedung Migas, Kamis (1/3).
Dari hasil perhitungan formula ICP, harga rata-rata Februari 2018 merosot dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari US$65,59 per barel menjadi US$61,61 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, rata-rata ICP tahun ini masih lebih tinggi dari asumsi ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dipatok hanya US$48 per barel.
"Iya nanti (subsidi) dihitung ulang," ujarnya.
Sebagai catatan, tahun ini pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp94,53 triliun dengan asumsi harga ICP sebesar US$48 per barel.
Rp46,87 triliun di antaranya akan digunakan untuk mensubsidi BBM jenis solar dan minyak tanah sebanyak 16,23 juta kilo liter (kl) serta 6,45 juta kilogram (kg) LPG yang disalurkan dalam bentuk elpiji bersubsidi bagi rakyat miskin dengan volume 3 kg.
Kemudian, Rp47,66 triliun sisanya merupakan subsidi listrik setelah adanya carry over sebesar Rp5 triliun dari kebutuhan subsidi listrik tahun berjalan yang sebesar Rp52,66 triliun. Subsidi listrik tersebut diperuntukkan bagi 23 juta pelanggan listrik rumah tangga golongan 450 VoltAmpere (VA) dan sekitar 6,5 juta pelanggan listrik golongan 900 VA. (lav/bir)