Harga Minyak Diramal Susut, Revisi APBN Tetap Dikaji

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 01/03/2018 19:01 WIB
Harga Minyak Diramal Susut, Revisi APBN Tetap Dikaji Ilustrasi Kilang Minyak (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sepanjang 2018 diperkirakan mengarah pada kisaran US$55 per barel, atau lebih rendah dari posisi Februari 2018 yang sebesar US$61,61 per barel.

Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Minyak dan Gas (Plt Dirjen Migas) Kementerian Energi, dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial memproyeksi masih ada peluang penurunan ICP lebih lanjut dari posisinya sekarang.

"Sekarang saja (ICP) sudah mulai turun walau kecil," ujar Ego di Gedung Migas, Kamis (1/3).

Dari hasil perhitungan formula ICP, harga rata-rata Februari 2018 merosot dibandingkan bulan sebelumnya, yakni dari US$65,59 per barel menjadi US$61,61 per barel.


Ego mengungkapkan tren ICP tak lepas dari perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi pasokan, permintaan, dan kurs dolar AS.

Kendati demikian, rata-rata ICP tahun ini masih lebih tinggi dari asumsi ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dipatok hanya US$48 per barel.

Maka itu, lanjut Ego, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tengah menghitung perubahan asumsi ICP. Hal itu juga akan berpengaruh pada besaran subsidi energi.

"Iya nanti (subsidi) dihitung ulang," ujarnya.

Sebagai catatan, tahun ini pemerintah mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp94,53 triliun dengan asumsi harga ICP sebesar US$48 per barel.

Rp46,87 triliun di antaranya akan digunakan untuk mensubsidi BBM jenis solar dan minyak tanah sebanyak 16,23 juta kilo liter (kl) serta 6,45 juta kilogram (kg) LPG yang disalurkan dalam bentuk elpiji bersubsidi bagi rakyat miskin dengan volume 3 kg.

Kemudian, Rp47,66 triliun sisanya merupakan subsidi listrik setelah adanya carry over sebesar Rp5 triliun dari kebutuhan subsidi listrik tahun berjalan yang sebesar Rp52,66 triliun. Subsidi listrik tersebut diperuntukkan bagi 23 juta pelanggan listrik rumah tangga golongan 450 VoltAmpere (VA) dan sekitar 6,5 juta pelanggan listrik golongan 900 VA. (lav/bir)