Dengan mengambil angka penerimaan perpajakan hingga Februari tahun lalu sebesar Rp140,9 triliun yang terdiri dari pajak sebesar Rp134,6 triliun dan bea cukai sebesar Rp6,3 triliun, maka penerimaan perpajakan di Februari ini ditaksir sebesar Rp160,62 triliun.
Sri Mulyani memang tidak merinci lebih jauh ihwal masing-masing kontribusi penerimaan dari pajak dan bea cukai. Namun, ia menyebut, pertumbuhan ini lebih baik dibanding tahun lalu sebesar 7 persen dan dua tahun sebelumnya minus 3 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, ia mengatakan, kondisi ini mengartikan bahwa pos penerimaan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terbilang positif. Dengan demikian, ketahanan ekonomi Indonesia kian tebal dalam menghadapi sentimen global, yang terutama berasal dari Amerika Serikat.
"Bisa dibilang kondisi APBN dalam dua bulan pertama sangat positif. Kalau pondasi dari APBN bisa dijaga, tentu saja Indonesia bisa menahan kalau ada arus dari luar," ucap dia.
Pada APBN 2018, penerimaan perpajakan ditarget di angka Rp1.618 triliun yang terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp1.424 triliun dan bea cukai sebesar Rp194,1 triliun. Angka ini meningkat 16,08 persen dibanding realisasi tahun 2017 sebesar Rp1.393,8 triliun. (agi)