ANALISIS

Meramal Nasib 212 Mart di Tengah Lesunya Industri Ritel

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Jumat, 16/03/2018 09:35 WIB
Meramal Nasib 212 Mart di Tengah Lesunya Industri Ritel Kinerja ritel yang tengah lesu akibat lemahnya daya beli menjadi tantangan bagi Koperasi Syariah 212 Mart untuk bertahan dan memenangkan persaingan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berdirinya Koperasi Syariah 212 Mart di tengah kondisi daya beli yang belum sepenuhnya membaik otomatis memberi tantangan tersendiri bagi kinerja 212 Mart. Terlebih, 212 Mart memprediksi keuntungan yang bisa diraih oleh investor per tahunnya mencapai 10 persen hingga 15 persen.

Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics Azis Setiawan mengatakan prediksi 15 persen terlalu tinggi bagi industri ritel saat ini. Ia pun menilai, sebelum menjanjikan tingkat keuntungan, pengurus Koperasi Syariah 212 Mart sebaiknya menengok kinerja keuangan beberapa perusahaan ritel terlebih dahulu dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, beberapa perusahaan ritel yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan kinerja kurang baik pada kuartal III 2017.


PT Sumber Alfaria Triijaya Tbk (Alfamart) misalnya, mengalami penurunan laba bersih hingga 72,98 persen menjadi hanya Rp97,3 miliar dibandingkan dengan kuartal III tahun 2016 sebesar Rp360,13 miliar. Padahal, perusahahaan sebenarnya masih membukukan kenaikan pendapatan sebesar 10,22 persen menjadi Rp45,6 triliun.

Kemudian, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) justru merugi pada sembilan bulan pertama tahun lalu hingga Rp385,6 miliar dengan pendapatan perusahaan yang turun 6,66 persen menjadi Rp9,61 triliun.

Selanjutnya, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mencatatkan pendapatan yang lebih rendah yakni sebesar 4,85 persen dari Rp10,46 triliun menjadi Rp9,96 triliun. Beruntung, Hero Supermarket masih mampu mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 56,54 persen menjadi Rp70,4 miliar.
Meramal Nasib 212 Mart di Tengah Lesunya Industri RitelKinerja emiten ritel kuartal III 2017. (CNN Indonesia/Fajrian)
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengumumkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per Februari 2018 turun menjadi 122,5 dari posisi Januari 2018 di level 126,1.

"(Perusahaan ritel) seharusnya bisa jadi patokan kondisi riil sekarang di lapangan. Kalau terlalu tinggi takutnya, jadi bumerang," ungkap Azis kepada CNNIndonesia.com, dikutip Jumat (16/3).

Untuk itu, Azis memandang lebih baik pengurus Koperasi Syariah 212 Mart memproyeksi keuntungan yang lebih konservatif. Selain karena kondisi dari industri ritel dan daya beli masyarakat, tawaran keuntungan yang terlalu tinggi umumnya menimbulkan masalah di waktu mendatang.

"Keuntungan 15 Persen itu cukup tinggi di sektor ritel, kalau 10 persen masih cukup baik untuk investor," ucap Azis.

Keuntungan bagi investor, lanjut Azis, juga seharusnya mengacu pada tingkat suku bunga deposito syariah yang saat ini berada dikisaran 4 persen hingga 6,75 persen dan sukuk ritel yang ada di kisaran 5,9 persen.

"Dari angka itu bisa ditambah 3 persen, jadi 10 persen masih oke," imbuh Azis.

Bukan hanya dari sisi prediksi keuntungan untuk investor, Azis mengingatkan agar pengurus 212 Mart tidak lupa untuk membangun tata kelola yang baik demi kelangsungan bisnis mini market berbasis syariah tersebut.

Seperti diketahui, 212 Mart dibangun dari dana anggota koperasi syariah 212 yang berinvestasi di bisnis ritel itu. Dengan kata lain, pemilik 212 Mart terdiri dari seluruh investor yang juga anggota Koperasi Syariah 212.

"Tetap harus ada kaidah bisnis sebagai korporasi atau perusahaan yang dijalankan dengan baik agar kompetitif, karena hal ini akan berpengaruh untuk beberapa waktu ke depan. Tidak hanya untuk jangka pendek," papar Azis.

Tata kelola yang dimaksud juga berkaitan dengan menjaga keharmonisan antar investor atau pengurus 212 Mart. Maklum saja, 212 Mart dimiliki dan dibangun oleh banyak investor. Dengan demikian, jika terjadi keributan antar investor maka akan berpengaruh untuk bisnis 212 Mart.

"Kalau sudah ribut, daya saing turun. Jadi makanya harus menyatukan visi dan misi dalam jangka panjang dan kepercayaan antar investor," tandas Azis.


Punya Pasar Sendiri
Di sisi lain, Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah Institut Pertanian Bogor (IPB) Irfan Syauqi Beik meyebut, 212 Mart telah memiliki pasar sendiri, yaitu anggota Koperasi Syariah 212 atau komunitas yang ikut berinvestasi mendirikan 212 Mart.

"Selama ini, misalnya mereka belanja di tempat lain, sekarang di 212 Mart selama barang itu ada. Kalau tidak ada baru ke tempat lain," terang Irfan.

Menurutnya, 212 Mart merupakan bentuk realisasi dari semangat anggota Koperasi Syariah 212 untuk mengembangkan ekonomi dalam negeri secara berjamaah. Melalui kekuatan kebersamaan tersebut, Irfan optimis 212 Mart bisa berkembang ke depannya. Terlebih, 212 Mart lahir dari gerakan sejumlah umat Islam pada Desember 2016 lalu dengan nama aksi 212.

"Unsur kolektivitas tinggi, kalau ritel lain dimiliki perusahaan yang pemegang sahamnya beberapa saja, jadi terobosannya 212 Mart ini komunitas. Ada unsur gerakan 212, jadi mungkin lebih dikenal," ungkap Irfan.

Lebih lanjut, Irfan menuturkan, 212 Mart sebenarnya bukan yang pertama menjadi mini market syariah yang hanya menjual barang halal. Sebelumnya, sudah ada mini market sejenis yang sudah berdiri.

"Mini market syariah sudah ada, misalnya Sodaqo Syariah Mart. Tapi lagi-lagi bedanya 212 Mart bisnis bersama-sama, bukan perusahaan," jelas Irfan.


Kendati demikian, 212 Mart tetap perlu beroperasi layaknya mini market komersial pada umumnya dengan mengambil keuntungan dari setiap barang yang dijual.

"Jangan sampai bisnis syariah justru merugi," ujar Irfan.

Adapun saat ini, koperasi syariah juga sebenarnya sudah cukup banyak berkembang di Indonesia. Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), jumlah koperasi syariah hingga Agustus 2017 mencapai 4.000 dari total koperasi sebanyak 151.000.

Kendati koperasi syariah sudah menjamur, tetapi Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo sebelumnya berpendapat laju ekonomi syariah masih jauh tertinggal dibanding aktivitas ekonomi sistem keuangan konvensional dan belum bisa sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat.

Maka itu, BI bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia(MUI), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) guna mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Kerja sama itu tertuang dalam nota kesepahaman yang dilakukan awal tahun ini.

Menurut Agus, BI bersama tiga lembaga Islam tersebut akan melakukan tiga hal utama untuk mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia, yakni pengembangan pasar keuangan syariah, penguatan riset, serta edukasi terkait ekonomi dan keuangan syariah. (agi/agi)