Kerja sama ini disepakati oleh kedua negara melalui penandatangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang ditandatangani oleh Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Suhendara dan Duta Besar Perancis untuk Indonesia, Jean-Charles Berthonnet. PKS juga disaksikan langsung oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan.
Jonan berharap, kerja sama ini akan memberikan manfaat bagi kedua negara. Bagi Perancis, kerja sama ini bisa menjadi sarana praktik kerja karena banyaknya gunung berapi di Indonesia. Sedangkan bagi Indonesia, kerja sama ini bisa membantu pemerintah memitigasi risiko bencana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudi Suhendara menjelaskan, kerja sama ini terdiri dari tiga kerangka besar, yaitu meningkatkan sistem pemantauan dan mitigasi, pertukaran keilmuan di bidang vulkanologi, dan pengembangan riset dan IT di lapangan.
Kendati begitu, pada kerja sama kali ini, kedua negara akan fokus menjalankan pemantauan di gunung-gunung api yang terletak di Maluku Utara. Hal ini karena mempertimbangkan karakteristik vulkanologi yang unik di lokasi tersebut.
Di sisi lain, tak hanya ahli vulkanologi Perancis yang datang ke Indonesia, namun beberapa pelajar dan mahasiswa Indonesia juga akan diberangkatkan ke negara mode itu untuk pertukaran pelajar. Hal ini agar pertukaran informasi lebih menyeluruh antara kedua negara.
Ke depan, hasil kerja sama ini diharapkan bisa melahirkan teknologi-teknologi baru di bidang vulkanologi. "Sebenarnya saat ini sudah berjalan pertukaran teknologi dalam sistem pemantauan, baik di hardware maupun software, tapi kami kembangkan lagi." pungkasnya.
Sayangnya, Rudi belum bisa memberi gambaran terkait besaran anggaran yang dibutuhkan dan berapa lama jangka waktu kerja sama ini.
Sebelumnya, kedua negara telah bekerja sama untuk pemantauan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2010. Kerja sama itu kemudian menghasilkan proyek ilmiah domerapi yang dijalankan pada 2013-2017. (agi)