Potensi Gangguan Pasokan, Harga Minyak Menguat

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 07:52 WIB
Potensi Gangguan Pasokan, Harga Minyak Menguat Harga minyak mentah menguat pada perdagangan kemarin, Selasa (17/4), yang dipicu oleh kemungkinan gangguan pasokan dan penguatan pasar modal. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Selasa (17/4), waktu Amerika Seriat (AS). Penguatan dipicu oleh kemungkinan terjadinya gangguan pada pasokan dan penguatan pasar modal. Kedua faktor tersebut mampu melawan efek dari aksi ambil untung pasca reli kenaikan harga pekan lalu.

Dilansir dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,16 menjadi US$71,58 per barel. Kenaikan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,3 menjadi US$66,52 per barel.

"Sepertinya, sebagian besar volatilitas telah menghilang dan sebagian disebabkan oleh minimnya eskalasi dari kejadian selama akhir pekan dan indeks S&P hari ini yang sedikit menguat," ujar Analis Teknis United-ICAP Brian LaRose, Rabu (18/4).



Sebagai catatan, kemarin, indeks S&P dan indeks rata-rata industri Dow Jones naik sekitar satu persen.

Pada akhir pekan lalu, AS dan sekutunya melancarkan serangan peluru kendali ke Suriah, meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan akses pasokan minyak mentah di kawasan Timur Tengah.

Hal itu menambah kekhawatiran terhadap gangguan pasokan yang disebabkan oleh kemungkinan AS menjatuhkan sanksi baru kepada Iran dan turunnya produksi minyak di Venezuela.


Harga Brent bulan ini telah naik 1,8 persen sampai sejauh ini. Pekan lalu, Brent sempat menyentuh US$73,09 per barel, tertinggi sejak akhir 2014 silam.

"Reli kenaikan harga, murni disebabkan oleh risiko geopolitik dan jika sekarang pasar tidak memiliki stimulus lebih jauh, kami melihat harga sedikit tergelincir," kata Joel Hancock, Ahli Strategi Komoditas Natixis.

Kendati demikian, para analis memperkirakan ketidakpastian terkait kesepakatan nuklir Iran bakal terus mendorong harga hingga 12 Mei 2018 mendatang, sesuai tenggat waktu yang diberikan Presiden AS Donald Trump kepada Kongres AS dan negara sekutu di Uni Eropa untuk memperbaiki kesepakatan tersebut.


Apabila AS tidak memperbarui keringanan sanksi, Iran bakal kesulitan melakukan ekspor minyak mentah.

Sementara, antusiasme terhadap potensi kenaikan harga kemungkinan dihadang oleh kenaikan pasokan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman minyak mentah berjangka AS.

"Volatilitas tidak banyak terjadi hari ini seiring pasar yang masih menanti data (persediaan minyak) Institute Perminyakan Amerika (API) dan Badan Administrasi Informasi Energi (EIA)," terang Presiden Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch.


Data resmi persediaan minyak mentah AS bakal dirilis oleh EIA pada hari ini atau besok waktu setempat.

"Jika harga pasar dapat bergerak lebih tinggi besok, maka itu bakal menjadi sinyal yang konstruktif," pungkas LaRose. (bir)