Pelemahan Rupiah Bikin Perusahaan Berbasis Impor 'Buntung'

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 07:29 WIB
Pelemahan Rupiah Bikin Perusahaan Berbasis Impor 'Buntung' Kadin menilai perusahaan berbasis impor akan merugi karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Seperti, farmasi dan makanan dan minuman. (ANTARA FOTO/Novrian Arbi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyebut perusahaan berbasis impor akan merugi karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun begitu, kerugiannya diperkirakan tidak akan mencapai 50 persen dari potensi pendapatannya.

Ketua Umum Kadin Rosan Roeslani mengungkapkan perusahaan yang akan merugi karena rupiah lesu, misalnya sektor farmasi dan makanan dan minuman (mamin). Kedua sektor itu masih membutuhkan bahan baku impor.

"Sebenarnya masing-masing industri beda-beda dampaknya. Tidak, tidak (sampai 50 persen penurunan marjin keuntungan)," ungkap Rosan, Rabu (25/4).



Sementara, untuk perusahaan berbasis ekspor, khususnya batu bara justru akan mendulang untung ketika rupiah terus terkapar dan dolar AS menguat. Pasalnya, mayoritas pendapatan perusahaan batu bara berupa dolar AS.

"Jadi, kalau mereka (perusahaan batu bara) kalau bisa lebih Rp14.000. Sebagian besar (pendapatan) 75 persen dolar, sedangkan cost-nya (biaya) menggunakan rupiah," jelas Rosan.

Makanya, ia berharap rupiah dapat stabil di kisaran Rp13.700-Rp13.750 per dolar AS agar perusahaan di berbagai sektor tetap untung dan bisa ekspansi.


"Kan tiba-tiba Rp13.500 per dolar AS ke Rp14.000 per dolar AS ya pening kepala, kalau balik lagi ke Rp13.500 per dolar AS secara realistisnya susah juga," kata Rosan.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah pada hari ini berada di level Rp13.888 per dolar AS. Angka itu sebenarnya menguat tipis dibanding sebelumnya yang berada di level Rp13.900 per dolar AS.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengaku telah melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas) maupun Surat Berharga Negara (SBN) dalam jumlah besar untuk menstabilkan rupiah.


"Dengan upaya tersebut (intervensi), rupiah pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar 0,70 persen. Pada Senin ini hanya melemah 0,12 persen, lebih rendah daripada depresiasi yg terjadi pada mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya," kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Washington DC, melalui keterangan resmi.

Menurut Agus, pelemahan rupiah disebabkan oleh dampak global berupa perang dagang AS-China, dan kenaikan harga minyak dunia. Selain itu, peningkatan permintaan valuta asing dari korporasi domestik menambah sentimen negatif bagi rupiah.

"Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya," pungkasnya. (bir)