Rupiah Melemah, IHSG Anjlok 1,85 Persen Hingga di Bawah 6.000

Agustiyanti, CNN Indonesia | Kamis, 26/04/2018 12:16 WIB
Rupiah Melemah, IHSG Anjlok 1,85 Persen Hingga di Bawah 6.000 IHSG pada penutupan perdagangan sesi satu anjlok 1,85 persen hingga jatuh ke level 5.967, seiring masih adanya kekhawatiran pelemahan rupiah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sesi satu anjlok 1,85 persen hingga jatuh ke level 5.967, seiring masih adanya kekhawatiran pelemahan rupiah.

Dibuka di level 6.090, IHSG sempat bergerak di rentang 5.951 hingga 6.089 pada perdagangan sesi satu. Adapun pada perdagangan di pasar uang hingga siang ini, rupiah menguat tipis 11 poin menjadi Rp13.910 per dolar AS.

RTI Infokom mencatat, investor membukukan transaksi sebesar Rp4,72 triliun dengan volume 5,35 miliar lembar saham. Adapun, perdagangan di pasar reguler, investor asing tercatat jual bersih (net sell) sebesar Rp892 miliar hingga siang ini.


Aksi jual bersih banyak dilakukan asing pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sebanyak 311 saham turun, 65 naik, dan 86 saham tetap.

Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang menjelaskan anjloknya IHSG pada perdagangan sesi satu masih disebabkan adanya kekhawatiran kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil (yield) obligasi AS. Selain itu, ia menilai ada upaya investor asing berusaha menekan Bank Indonesia untuk menaikkan bunga acuan guna menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus melemah.

"Saya lihat ini juga ada upaya dari investor asing untuk menekan BI agar menaikkan bunga acuan. Jangan sampai BI diarahkan investor, karena kenaikan bunga bisa mengorbankan pertumbuhan ekonomi," ujar Edwin kepada CNNIndonesia.com, Kamis (26/4).


Edwin menjelaskan bahwa aliran modal asing sudah keluar dari pasar saham Indonesia sejak awal tahun. Pelemahan IHSG, menurut dia, sebenarnya dapat dimanfaatkan investor domestik untuk masuk.

"Ini sebenarnya saatnya investor domestik untuk masuk, karena sedang murah," ungkap dia.


Edwin pun optimis, IHSG bakal kembali bangkit dan berada di level 6.000.

"Skenario paling buruk, pelemahan ini akan terjadi seminggu. Setelah itu IHSG akan rebound," tegas dia.

Sementara itu, Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo menilai pelemahan IHSG terutama disebabkan oleh sentimen global. Pekan lalu, bursa saham Wall Street melemah signifikan, Dow Jones bahkan turun hingga di bawah 400 poin dan membuat harga minyak menguat. 

"Apresiasi pasar masih terbatas untuk transaksi di pasar saham karena memperhatikan pasar komoditas. Perbaikan Dow Jones tadi malam tak bisa menjadi penawar bagi IHSG," terang dia. 
(agi/agi)