Rupiah Melemah Tembus Rp14 Ribu, Pemerintah Untung

Galih Gumelar & Agustiyanti, CNN Indonesia | Selasa, 08/05/2018 14:56 WIB
Rupiah Melemah Tembus Rp14 Ribu, Pemerintah Untung Pemerintah memastikan tambahan penerimaan negara dalam APBN 2018 akibat rupiah melemah masih lebih besar dibandingkan belanja negara yang bengkak. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus level Rp14 ribu dinilai berdampak positif pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dikelola pemerintah. Pasalnya, pelemahan rupiah diperkirakan dapat mengerek pendapatan negara.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sebenarnya bisa memperbaiki penerimaan negara. Pengaruh pelemahan rupiah terutama terjadi pada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) minyak dan gas (migas), serta komoditas ekstraktif lain.

Pada dua jenis penerimaan tersebut, pemerintah mengantongi dolar AS yang akan dikonversikan ke dalam nilai rupiah. Dengan demikian, pelemahan rupiah akan membuat perhitungan penerimaan tersebut kian besar.Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan juga akan membuat belanja negara membengkak. Pasalnya, subsidi energi dan pembayaran bunga utang akan terkerek.


Kendati demikian, ia memastikan bahwa tambahan penerimaan pemerintah dari pelemahan rupiah masih akan lebih besar ketimbang bengkaknya belanja negara.

"Apa yang terjadi kalau kurs lebih lemah, Indonesia akan memiliki penerimaan. Dan dengan penerimaan yang didapatkan ini akan lebih tinggi dari pengeluarannya," ujar Suahasil.

Sesuai kurs resferensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah tercatat Rp14.036 per dolar AS per Selasa (8/5). Dalam sebulan terakhir, rupiah tercatat lunglai 1,92 persen terhadap dolar AS.


Senada, Kepala Ekonom Lana Soelistianingsih juga menilai APBN sebenarnya justru diuntungkan dengan pelemahan rupiah.

"Kenaikan pendapatan dari pelemahan rupiah, dibanding kenaikan belanja, masih lebih besar pendapatan," jelas dia.

Ia juga menilai pelemahan rupiah sebenarnya akan membantu pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi ekspor.

"Walaupun bahan baku itu impor, volume ekspor lebih besar dari impor, sehingga pelemahan rupiah tentu masih akan positif," terang dia.

Lana memperkirakan pengaruh domestik akibat tingginya permintaan dolar AS pada pelemahan rupiah hanya akan berlanjut hingga akhir bulan ini. Namun, efek dari pengaruh global, diakui Lana belum dipastikan.


Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual menilai rupiah yang menembus level psikologis Rp14 ribu per dolar AS tak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, gejolak atau volatilitas rupiah sebenarnya terjaga.

"Pelemahan rupiah perlahan sehingga dunia usaha bisa menyesuaikan diri. Tapi rupiah yang terus melemah dikhawatirkan membuat kepercayaan pengusaha turun dan mereka enggan beraktivitas," ungkap dia.

Jika kondisi tersebut terjadi, David memperkirakan bahwa penerimaan negara juga dapat tergerus.

David menekankan pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat pada nilai tukar. Saat ini, menurut dia, nilai tukar rupiah berada di bawah nilai fundamentalnya, yang ada di kisaran Rp13.600 per dolar AS.

"Pelemahan rupiah ini tergantung kondisi global. Kalau kembali stabil, bukan tidak mungkin kembali lagi ke level fundamentalnya," jelas dia. (agi/lav)