Penerimaan Pajak Naik, Sri Mulyani Klaim Ekonomi Bergeliat

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 17/05/2018 19:36 WIB
Penerimaan Pajak Naik, Sri Mulyani Klaim Ekonomi Bergeliat Penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Badan yang naik 23,55 persen menjadi Rp90,47 triliun memberikan kontribusi paling besar bagi kenaikan penerimaan pajak. (CNN Indonesia/Bintoro Agung Sugiharto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak hingga April 2018 mencapai Rp383,4 triliun, naik 10,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penerimaan tersebut terutama didorong kenaikan PPh Badan sebesar 23,55 persen menjadi Rp90,47 triliun dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang naik 9,53 persen menjadi Rp75,37 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai pertumbuhan pajak ini menunjukkan bahwa perekonomian masih bergeliat, utamanya proses produksi yang dilakukan oleh dunia usaha.

"Ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi ini menguat, karena mereka tidak mungkin bayar pajak yang meningkat tanpa ada underlying activity yang ikut meningkat," terang Sri Mulyani, Kamis (17/5).



Adapun pada periode tersebut, PPN impor tercatat tumbuh tinggi mencapai 25,07 persen. Impor selama ini diklaim banyak didorong oleh barang modal dan bahan baku produksi, sehingga kenaikan PPN impor dinilai telah menunjukkan investasi dan produksi yang bergeliat.

Jika dilihat secara sektoral, industri pengolahan masih berkontribusi paling besar sebesar Rp103,07 triliun atau 28,9 persen dari seluruh penerimaan pajak. Disusul oleh perdagangan yang mencapai Rp76,41 triliun.

Di sisi lain, PPh Wajib Pajak (WP) yang menunjukkan perbaikan pendapatan masyarakat juga mengalami kenaikan sebesar 14,47 persen per April 2018 menjadi Rp41,28 triliun.

"Ini pun (pertumbuhan PPh pribadi) konsisten meningkat terus," imbuh dia.


Meningkatnya pertumbuhan penerimaan pajak bikin Sri Mulyani semringah. Sebab, ini menyebabkan pertumbuhan pendapatan negara mencapai 13,28 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih besar ketimbang pertumbuhan belanjanya 8,32 persen.

Dengan demikian, masih ada peluang defisit anggaran tahun ini bisa menipis. "Tahun lalu pada periode sama defisit mencapai 0,53 persen dari PDB tapi kini sudah di angka 0,37 persen dari PDB," pungkas dia.
(agi/bir)