Pengusaha Manfaatkan Pelemahan Rupiah Genjot Ekspor

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Selasa, 22/05/2018 16:09 WIB
Pengusaha Manfaatkan Pelemahan Rupiah Genjot Ekspor Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia mengklaim ekspor barang pada akhir Mei naik lima persen seiring pelemahan nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) menyebut sejumlah pengusaha menggenjot ekspor demi memanfaatkan momentum pelemahan nilai tukar rupiah. Alhasil, ekspor barang pada akhir Mei 2018 diperkirakan naik sekitar empat hingga lima persen dibanding bulan sebelumnya. 

Ketua GPEI Benny Soetrisno menjelaskan kenaikan ekspor barang terutama terjadi pada produk makanan olahan, bahan kimia, pakaian jadi, kendaraan bermotor, barang elektronik, tekstil, dan kayu olahan. Hal ini tak lepas dari upaya sejumlah pengusaha mendorong ekspor guna memanfaatkan pelemahan rupiah. 

Seperti diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah kemarin sempat menyentuh level Rp14.202 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pada perdagangan hingga siang ini, rupiah berhasil menguat ke level Rp14.133 per dolar AS.


"GPEI akan menggunakan momentum ini untuk membesarkan volume ekspor, tapi hal ini perlu juga waktu untuk pengembangan pasar dan penetrasi, serta penambahan kapasitas utilisasi," ungkap Benny kepada CNNIndonesia.com, Selasa (22/5).


Benny belum bisa menyebut secara pasti berapa persen volume ekspor yang akan ditambah ketika rupiah terus melemah seperti ini. Hal tersebut bergantung pada komitmen pembeli.

"Menaikkan berapa persen belum tahu sebelum ada komitmen pembeli untuk menaikkan jumlah barang yang mereka impor," kata Benny.

Namun, ia menekankan jumlah ekspor secara historis memang akan meningkat setelah kuartal I. Ekspor pada semester II juga biasanya lebih tinggi dibanding semester I.

Adapun ia menilai penurunan ekspor pada April 2018 secara bulanan (month to month) sebesar 7,19 persen menjadi US$14,47 miliar sebagai hal yang wajar.


"Wajar karena pelemahan rupiah kan baru terjadi pada pertengahan Maret 2018, sedangkan pemesanan barang kan awal Januari 2018," jelas Benny.

Sementara, bila dilihat secara tahunan (year on year), jumlah ekspor April 2018 masih tercatat naik karena pada periode yang sama tahun lalu hanya US$13,27 miliar.

"Jadi sebenarnya menurut saya tidak ada masalah," tutup Benny.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan April 2018 defisit sebesar US$1,63 miliar. Kondisi itu berbanding terbalik dengan posisi Maret 2018 yang surplus sebesar US$1,09 miliar. (agi/bir)