Ketua GPEI Benny Soetrisno menjelaskan kenaikan ekspor barang terutama terjadi pada produk makanan olahan, bahan kimia, pakaian jadi, kendaraan bermotor, barang elektronik, tekstil, dan kayu olahan. Hal ini tak lepas dari upaya sejumlah pengusaha mendorong ekspor guna memanfaatkan pelemahan rupiah.
Seperti diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah kemarin sempat menyentuh level Rp14.202 per dolar Amerika Serikat (AS). Namun, pada perdagangan hingga siang ini, rupiah berhasil menguat ke level Rp14.133 per dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Benny belum bisa menyebut secara pasti berapa persen volume ekspor yang akan ditambah ketika rupiah terus melemah seperti ini. Hal tersebut bergantung pada komitmen pembeli.
Namun, ia menekankan jumlah ekspor secara historis memang akan meningkat setelah kuartal I. Ekspor pada semester II juga biasanya lebih tinggi dibanding semester I.
Adapun ia menilai penurunan ekspor pada April 2018 secara bulanan (month to month) sebesar 7,19 persen menjadi US$14,47 miliar sebagai hal yang wajar.
"Wajar karena pelemahan rupiah kan baru terjadi pada pertengahan Maret 2018, sedangkan pemesanan barang kan awal Januari 2018," jelas Benny.
Sementara, bila dilihat secara tahunan (year on year), jumlah ekspor April 2018 masih tercatat naik karena pada periode yang sama tahun lalu hanya US$13,27 miliar.
"Jadi sebenarnya menurut saya tidak ada masalah," tutup Benny.
Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan April 2018 defisit sebesar US$1,63 miliar. Kondisi itu berbanding terbalik dengan posisi Maret 2018 yang surplus sebesar US$1,09 miliar. (agi/bir)