BI: Jangan Harap Keajaiban Rupiah Bila Impor Lampaui Ekspor

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 22/05/2018 19:16 WIB
BI: Jangan Harap Keajaiban Rupiah Bila Impor Lampaui Ekspor Gubernur BI Agus Martowardojo menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak bisa dihindari mengingat transaksi berjalan Indonesia masih defisit. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan).
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak bisa dihindari mengingat transaksi berjalan Indonesia masih defisit.

Maklum, komponen terbesar transaksi berjalan banyak berasal dari aktivitas perdagangan internasional. "Jangan mengharapkan sesuatu yang ajaib (pada nilai tukar rupiah) kalau kita tidak bisa jaga ekspor lebih besar dari impor, neraca jasa kita surplus, dan neraca pendapatan surplus," ujarnya, Selasa (22/5).

Sebagai gambaran, ketika Agus mulai menjabat sebagai Gubernur BI pada 2013 silam, rata-rata nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp9.353 per dolar AS. Kini, rupiah bertengger lebih dari Rp14.000 per dolar AS.


Namun, sebetulnya, sejak 2012, transaksi berjalan Indonesia menunjukkan kinerja defisit. Pada 2012, defisit transaksi berjalan minus 2,69 terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).


Kemudian, pada 2013, transaksi berjalan defisit hingga minus 3,26 terhadap PDB, 2014 -3,12, 2015 -2,09, 2016 -1,78, dan 2017 -1,71 terhadap PDB.

BI memperkirakan transaksi berjalan sepanjang tahun ini masih akan defisit sebesar US$23 miliar atau sekitar 2,3 persen dari PDB.

Secara teori, Agus mengungkapkan apabila nilai impor lebih besar dari ekspor, maka rupiah akan sulit menguat. Pasalnya, tingginya impor diikuti dengan tingginya permintaan terhadap dolar AS yang digunakan sebagai alat pembayaran internasional.

"Intinya, transaksi berjalan tidak boleh defisit," imbuh dia.


Karenanya, Indonesia harus berupaya agar transaksi berjalan menjadi surplus. Misalnya, dengan mendorong ekspor barang nonkomoditas yang bernilai tambah dan mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

Kendati demikian, meskipun transaksi berjalan defisit, nilai tukar rupiah bisa menguat jika mendapatkan aliran modal masuk yang besar dalam bentuk investasi langsung maupun pembelian surat utang. Karenanya, fundamental perekonomian harus terjaga, termasuk di dalamnya inflasi yang stabil.

"Kalau inflasi negara lain lebih rendah dari kita (Indonesia), rupiah kita terhadap mata uang negara itu tidak mungkin menjadi lebih kuat," terangnya.

Di saat bersamaan, Indonesia juga perlu menghindari sentimen negatif yang berdampak terhadap pasar keuangan. Misalnya, kejadian terorisme jika tak dikendalikan dengan baik akan berdampak negatif pada pergerakan nilai tukar.


"Terorisme bom itu bisa berdampak negatif kalau dipelintir. Jadi, kita harus menjaga agar jangan sampai terjadi sentimen," jelasnya.

Tak hanya itu, pembangunan infrastruktur di sektor ril harus terus dilanjutkan. Untuk memperkuat dari sisi pembiayaan, pendalaman pasar modal perlu dilakukan sebagai alternatif sumber pembiayaan selain dari sektor perbankan.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini bertengger di level Rp14.178 per dolar AS atau melemah dari posisi kemarin, yaitu Rp14.176 per dolar AS. (bir)