Blue Bird Bakal Remajakan 4 Ribu Armada Taksi

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Jumat, 25/05/2018 06:34 WIB
Blue Bird Bakal Remajakan 4 Ribu Armada Taksi Blue Bird akan meremajakan sekitar 3.000-4.000 armada taksinya pada tahun ini. Rencananya, armada diubah menjadi kendaraan berjenis MPV. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Blue Bird Tbk (BIRD) akan melakukan peremajaan armada sekitar tiga hingga empat ribu taksi pada tahun ini. Sebagian besar armada rencananya akan diubah menjadi kendaraan berjenis Multi Purpose Vehicle (MPV).

Direktur Blue Bird Sandy Permadi mengatakan perusahaan menggunakan sebagian besar belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini untuk peremajaan armada.

"Jadi, memang sampai April ini sudah investasi sebesar Rp250 miliar," ujarnya, Kamis (24/5).

Sementara, total armada yang sudah diremajakan sejauh ini baru sebanyak 1.000 kendaraan. Perusahaan masih akan terus memantau perkembangan kebutuhan peremajaan setiap bulannya.


"Nanti dari perkembangan bulan ke bulan kami akan lihat lagi kebutuhan persisnya," jelas Sandy.

Namun, ia enggan menyebut total belanja modal yang dialokasikan. Soalnya, rencana peremajaan masih dalam tahap kajian internal perusahaan.

"Kami juga masih negosiasi dengan pihak prinsipal (untuk peremajaan kendaraan) jadi kami belum bisa disclose (memaparkan)," terang dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Purnomo Prawiro memaparkan total armada yang dimiliki perusahaan saat ini berjumlah 29 ribu unit. Jumlah itu terdiri dari berbagai jenis kendaraan dan produk.


Mayoritas armada perusahaan atau 22 ribu kendaraan diperuntukkan sebagai taksi reguler, kemudian 900 armada dijadikan taksi eksekutif, lima ribu armada berupa limosin untuk bisnis sewa mobil, dan sisanya 500 armada untuk bisnis bis.

Banyak Dipesan Online

Dari sisi bisnis, Direktur Sigit Priawan Djokosoetono menyebut pemesanan taksi melalui aplikasi My Blue Bird terus meningkat hingga Mei 2018. Hal ini dipicu oleh berbagai promosi yang diberikan oleh Blue Bird dalam aplikasi tersebut.

"Tren meningkat cukup signifikan karena trennya online dan Blue Bird sendiri sudah mmpersiapkan peningkatan tersebut," tuturnya.


Kendati pesanan online meningkat, perusahaan transportasi ini belum berniat untuk membuat dompet elektronik (e-wallet) dalam aplikasi My Blue Bird seperti Go-Jek yang memiliki fasilitas Gopay dan Grab dengan Grab Pay-nya.

"Karena kami fokus pada layanan fitur di transportasi, e-wallet kami lihatnya kepada finansial, jadi kami melihatnya menambah pembayaran dari nontunai misalnya kartu kredit dan lain-lain," jelas Sigit.

Terkait proyeksi kinerja 2018, Direktur Adrianto Djokosoetono menyatakan masih cukup optimistis meski persaingan semakin ketat di berbagai kota di luar Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).


"Makanya, kami pilih strategi yang tepat, misalnya menambah cara pembayaran dengan T-Cash dari Telkomsel," ucap Adrianto.

Selain T Cash, ia mengaku ada beberapa cara pembayaran melalui uang elektronik lainnya yang sudah masuk dalam pipeline. Namun, perusahaan belum bisa membocorkan rencana kerja sama dengan pihak lain sebelum resmi dilakukan.

"Tujuannya adalah untuk memudahkan pelanggan Indonesia," katanya.

Bagikan Dividen Rp127,6 Miliar

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Blue Bird memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp127,6 miliar atau 30,03 persen dari total laba bersih sebesar Rp424,86 miliar.


"Ini setara dengan Rp51 per saham akan dibagikan dalam bentuk dividen tunai yang tercatat dalam daftar pemegang saham per 7 Juni 2018 dan akan dibayar pada 27 Juni 2018," papar Purnomo.

Sementara, perusahaan akan menahan laba bersih sebesar Rp10 miliar sebagai dana cadangan dan Rp287,25 miliar untuk menambah saldo laba perusahaan.

"Penambahan saldo laba perusahaan untuk mendukung pengembangan operasional usaha perusahaan," tutup Purnomo.


(bir)