JEDA

Hobi Baca Buku Jadi Resep Onny Widjanarko Racik Kebijakan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Minggu, 10/06/2018 13:29 WIB
Hobi Baca Buku Jadi Resep Onny Widjanarko Racik Kebijakan Kepala Pusat Bagian Transformasi Bank Indonesia (BI) Onny Widjanarko. (CNN Indonesia/Agustiyanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbekal hobi membaca yang telah digandrunginya sejak muda, Onny Widjanarko mengaku memiliki resep khusus dalam meracik kebijakan sistem pembayaran di Indonesia.
Baginya, membaca buku memberikannya banyak inspirasi sekaligus solusi dalam memecahkan segala persoalan dan aturan main yang harus diterbitkan oleh bank sentral nasional.

Pria yang sehari-hari menduduki kursi Kepala Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) itu menyatakan bahwa dirinya kerap membaca buku dengan bahasan ekonomi dan teknolgi sejak 1993, kala pertama kali memulai karirnya di BI.

"Apalagi yang kaitannya dengan pembayaran digital, seru sekali. Ini bisa menjadi referensi kebijakan dan pengembangan isu global, misalnya isu yang saya dapat dari forum ekonomi internasional dan persoalan saat ini," ujarnya saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, belum lama ini.
Khususnya dalam meracik kebijakan, persoalan di tataran praktik saat ini, menurutnya, sedikit banyak selalu bisa diselesaikan dengan teori-teori dasar yang sudah mendunia dan dirangkum dalam berbagai buku.


Dengan begitu, kebijakan yang diambil juga sesuai dengan pengalaman terbaik (best practice) yang sudah sukses dijalankan di dunia.

Untuk membaca, Onny yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Program Transformasi BI mengaku selalu menyempatkan waktu di sela-sela pekerjaannya.

"Saya mencicil bacanya, sedikit-sedikit, tapi konsisten dihabiskan secepat mungkin bacaanya agar tidak terlanjur lupa. Tapi memang lebih leluasa membaca saat akhir pekan," katanya.

Onny bilang, hobi membaca buku membuatnya memiliki perpustakaan kecil di rumahnya. Perpustakaan itu menyimpan ratusan buku yang telah dimilikinya. Namun, hal yang menarik, rupanya tak ada buku fiksi di rak-rak bukunya.

Pasalnya, ia mengaku memang tidak begitu menyukai buku fiksi, seperti novel. "Paling dulu saya baca buku filsafah, tapi kalau novel tidak sih," imbuhnya.

Kehadiran perpustakaan itu, menurutnya, tidak hanya bermanfaat untuk menyimpan dengan rapi buku-buku yang dimilikinya. Namun, suatu saat tentu akan berguna bagi anak-anaknya untuk mendapatkan bahan bacaan.

"Sekarang mungkin belum dibaca anak saya, tapi menjadi modal di masa depan," tuturnya menutup perbincangan. (lav/lav)