Ibrahim, Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka melihat rupiah bakal kembali menguat pada hari ini karena Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Juni 2018.
"Inflasi diperkirakan tetap rendah, sehingga bisa menguatkan rupiah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Awali Pekan Ini, IHSG Berpeluang Menguat |
Reza Priyambada, Analis Binaartha Sekuritas menilai rupiah juga punya peluang menguat karena penguatan euro Eropa yang terjadi akibat Uni Eropa menyepakati penyelesaian krisis imigran di Benua Biru.
Dalam kesepakatan itu, beban pemukiman para pengungsi akan dibagi merata antara negara anggota. Lalu, Uni Eropa juga akan berupaya mendirikan pusat imigran di negara-negara di luar Eropa.
Pada pekan lalu, rupiah berhasil menguat berkat keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25 persen.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang melemah dari dolar AS. Mulai dari won Korea Selatan minus 0,15 persen, dolar Singapura minus 0,12 persen, yen Jepang minus 0,09 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.
Sedangkan, baht Thailand dan ringgit Malaysia, masing-masing melemah 0,04 persen dan 0,05 persen.
Sementara rubel Rusia minus 0,35 persen, dolar Kanada minus 0,18 persen, dolar Australia minus 0,18 persen, euro Eropa minus 0,16 persen, poundsterling Inggris minus 0,11 persen, dan franc Swiss minus 0,08 persen. (bir)