BEI: Penyelesaian Transaksi Saham Dua Hari Mulai 26 November

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Kamis, 19/07/2018 06:15 WIB
BEI: Penyelesaian Transaksi Saham Dua Hari Mulai 26 November Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan pelaksanaan sistem penyelesaian transaksi jual dan beli saham di pasar saham menjadi dua hari (T+2) akan dimulai pada 26 November 2018.

Nantinya, pelaku pasar akan melakukan transaksi dengan penyelesaian selama tiga hari (T+3) untuk terakhir kalinya pada 23 November 2018.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Laksono Widito Widodo mengatakan percepatan transaksi ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi operasional dan meningkatkan likuiditas melalui percepatan transaksi.



"Ini juga bisa mengurangi risiko sistemik yang dapat terjadi di pasar modal," ucap Laksono, Rabu (18/7).

Ia mengatakan seluruh infrastruktur untuk menunjang kebijakan baru itu dinilai sudah siap. Sebab, BEI juga sudah menerapkan Straight Through Processing (STP), Single Investor Identification (SID), dan Rekening Dana Nasabah (RDN).

"Kemajuan dan integrasi teknologi informasi itu yang memungkinkan proses alokasi dan efek dalam penyelesaian transaksi lebih cepat dari praktik penyelesaian saat ini," papar Laksono.


Untuk menyukseskan perubahan kebijakan ini, BEI membuat grup diskusi dengan anggota bursa (AB) dan bank kustodian guna mengakomodir komunikasi antar keduanya.

"Lalu lintas barang dan uang ada di pihak mereka," imbuh Laksono.

Menurut Laksono, percepatan transaksi ini diharapkan bisa menaikkan nilai transaksi rata-rata harian BEI. Untuk saat ini rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar Rp9 triliun.

"Harusnya ada kenaikan transaksi karena eksposure transaksi jadi lebih kecil," terang Laksono.


Sayangnya, pihak BEI belum bisa memastikan jumlah kenaikan transaksi harian BEI nantinya sebagai dampak dari percepatan penyelesaian transaksi saham.

"Kami belum ada rencana mengubah target transaksi harian (saat ini Rp9 triliun)," pungkas Laksono. (lav/lav)