Cerita Menko Darmin soal Awal Mula Keperkasaan Dolar AS

SAH, CNN Indonesia | Rabu, 25/07/2018 09:05 WIB
Cerita Menko Darmin soal Awal Mula Keperkasaan Dolar AS Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) disebut dimulai sejak 1973, kala AS meminta Arab Saudi bertransaksi minyak dengan menggunakan mata uang tersebut. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berkisah mengenai keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) yang belakangan turut menyeret rupiah.

Saat ini, negara-negara dunia termasuk Indonesia bergantung pada dolar AS karena hampir seluruh transaksi internasional menggunakan mata uang ini.

Ia bercerita, AS mengawali dominasi dolar AS pada 1973 dengan meminta Arab Saudi untuk bertransaksi minyak menggunakan mata uang Negera Adidaya tersebut.


Saat itu, mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Alfred Kissinger diutus untuk menemui pihak kerajaan Arab Saudi meminta penjualan minyak mentah menggunakan dolar AS.

"Dan Saudi Arabia mau, tidak lama negara-negara teluk lainnya juga mau," terang Darmin di Pusdiklat Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (24/7).


Sejak saat itu, kata Darmin, dolar AS diperlukan oleh semua negara. Bahkan, Russia pun membutuhkan dolar AS untuk bertransaksi.

AS telah berhasil menjadikan dolar sebagai mata uang global. Peristiwa itu membuktikan bahwa AS sejak lama paham bahwa mata uangnya penting untuk digunakan secara global.

Alhasil, AS tidak perlu khawatir akan inflasi dengan mencetak mata uangnya dalam jumlah yang banyak. Padahal, negara dunia lainnya harus berhati-hati dalam mencetak uang.

Logikanya, jika uang beredar terlalu banyak di suatu negara dengan tidak diimbangi produksi barang dan jasa, inflasi menjadi tidak terkendali.


"Amerika bisa mencetak uang banyak-banyak tidak inflasi. Kenapa? Karena orang lain perlu juga, bukan cuma negaranya," terang Darmin.

Keperkasaan dolar AS saat ini, kata Darmin, diperkuat dengan rencana bank sentralnya menaikan tingkat bunga acuan sebanyak dua kali. Uang di negara-negara berkembang pun 'terambil' ke AS karena imbal hasil (yield) yang lebih menarik seiring tingkat bunga acuan yang tinggi.

"Dan apa akibatnya? Yang tadinya banyak investor datang ke India, Malaysia, Indonesia, tiba-tiba mulai tarik uangnya untuk apa? Dia mau bawa ke Amerika, karena di sana imbal hasil yield itu dari surat berhaga akan naik," terangnya. (agi/agi)