Presiden Clinton Pernah Minta Soeharto Kerja Sama dengan IMF

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 26/07/2018 10:30 WIB
Presiden Clinton Pernah Minta Soeharto Kerja Sama dengan IMF Presiden Soeharto dan Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus menandatangani surat kesediaan atau Letter of Intent (LoI) paket bantuan ekonomi selama lima tahun pada Januari 1998. (AFP PHOTO / AGUS LOLONG)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat di bawah Presiden Bill Clinton diketahui meminta Presiden Soeharto untuk bekerja sama dengan International Monetary Fund (IMF) demi menyelesaikan krisis moneter yang terjadi pada 1997 hingga 1998 silam.

Hal itu terungkap di dalam dokumen percakapan telepon antara Clinton dan Soeharto yang dirilis Arsip Keamanan Nasional Amerika Serikat (National Security Archive), The George Washington University, beberapa waktu lalu.

Dalam dokumen itu diungkapkan, pada 8 Januari 1998, Clinton menghubungi Soeharto pukul 21.42 waktu Amerika Serikat, dan meminta presiden kedua Indonesia itu untuk bekerja sama dengan Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus dan Deputi Menteri Keuangan AS Larry Summers yang akan menyusul kemudian. Clinton juga berencana membuat pernyataan resmi mengenai pentingnya hubungan bilateral antara AS dan Indonesia.



"Bahwa kami mendukung Anda (Indonesia) dan kami akan tetap bersama Anda selama masa sulit ini," jelas Clinton dikutip dari dokumen tersebut, Kamis (26/7).

Ia melanjutkan, AS selalu mendukung perbaikan ekonomi melalui IMF, dan berharap Indonesia mau menggunakan 'kekuatan' ini untuk reformasi ekonomi. Bahkan menurut Clinton, bantuan IMF ini merupakan warisan ekonomi yang baik bagi pemerintahan Soeharto.

Clinton berharap Camdessus dan Summers bisa membantu Indonesia mengatasi utang swasta yang tak bisa terbayar. Menurutnya, dua sosok itu bisa membantu perbankan Indonesia dalam memahami struktur utang perusahaan-perusahaan, sehingga perbankan bisa menilai risiko perusahaan dalam berutang.


"Selain itu, ketika beberapa bank tutup, itu memberikan pengaruh pada investor. Namun ketika bank itu dibuka kembali menggunakan nama yang baru, itu memberikan efek psikologis bagi investor," jelasnya.

Tak hanya itu, Clinton juga bilang bahwa Indonesia membutuhkan suku bunga yang tinggi demi menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini, lanjut dia, serupa dengan situasi yang dihadapi oleh Korea Selatan.

"Saya paham bahwa ini berat, namun suku bunga tetap harus tinggi sampai rupiah stabil," jelasnya.

Sementara itu, Soeharto memgucapkan terima kasih atas bantuan AS dan berjanji akan menemui utusan IMF tanggal 15 Januari 1998. Meski ada kekhawatiran mengenai realisasi program bantuan IMF, ia yakin rakyat Indonesia mau berkorban demi hasil yang bermanfaat.

"Karena situasi yang berkembang di Asia Tenggara saat ini sangat sulit untuk diatasi," jelas Soeharto.


Percakapan telepon ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Clinton dan Soeharto di Vancouver tanggal 24 November 1997. Di dalam pertemuan itu, Soeharto mencurahkan perhatiannya pada krisis ekonomi yang tak kunjung berakhir.

Soeharto menyebut krisis ekonomi yang bermula dari Thailand ini diperparah dengan beberapa utang swasta yang jatuh tempo dan harus segera dibayar. Utang pemerintah dikatakannya cukup aman, namun swasta harus membeli dolar untuk membayar kembali pinjaman-pinjaman mereka.

"Sektor swasta membeli dolar, masyarakat juga membeli dolar sehingga terus melemahkan nilai tukar rupiah," jelas Soeharto. (lav/lav)