Ada Pengendalian Impor, Proyek Kereta Cepat Tetap Jalan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 09:45 WIB
Ada Pengendalian Impor, Proyek Kereta Cepat Tetap Jalan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dipastikan tetap berjalan, meski pemerintah berencana menunda sejumlah proyek infrastruktur demi menjaga aktivitas impor yang berlebihan yang akhirnya menggerus cadangan devisa.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menegaskan proyek tersebut sudah memasuki fase kewajiban pembiayaan (financial closing/FC), sehingga akan tetap berjalan.

"Proyek yang sudah FC jalan terus, yang belum kami akan detailkan mana-mana material yang bisa dibuat di Indonesia," ujar Rini dalam konferensi pers di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (16/8).



Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah juga akan mengkaji ulang untuk menunda kelanjutan proyek yang belum memasuki fase financial closing. Hal ini, menurut dia, demi menghindari potensi penggunaan barang modal impor.

Rini melanjutkan pembiayaan mega proyek tersebut berasal dari pinjaman badan usaha kepada Bank Pembangunan China (CDB) sebesar US$5,9 miliar yang memberikan masa tenggang pembayaran angsuran (grace period) selama 10 tahun.

"Kereta cepat Jakarta-Bandung pembangunannya berjalan terus karena proyek ini dibiayai oleh CDB untuk jangka waktu 40 tahun dan diberikan grace period 10 tahun berarti tidak ada pembayaran devisa selama 10 tahun," sambung Rini.


Rini mengungkapkan saat ini kontraktor sedang membangun lima terowongan. Pembangunan tunnel merupakan bagian tersulit dalam pembangunan konstruksi jalur kereta cepat.

Sebagai informasi, proyek kereta cepat sepanjang 142,3 kilometer (km) dikerjakan oleh High Speed Railway Contractor Consortium yang merupakan gabungan 7 kontraktor bersama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pengembang proyek.

Mayoritas pembiayaan proyek didanai lewat pinjaman dari CDB. Empat perusahaan pelat merah tergabung dalam konsorsium yaitu PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang terdiri dari PT WIKA, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga, dilibatkan dalam pembebasan lahan proyek.
(lav/lav)