ANALISIS

Waspada, Mata Uang Negara Berkembang Belum 'Siuman'

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 21/08/2018 12:22 WIB
Waspada, Mata Uang Negara Berkembang Belum 'Siuman' Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gejolak nilai tukar rupiah kian meningkat dari hari ke hari.

Setelah 'bosan' dengan sentimen rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve dan perang dagang AS-China, kali ini ada sentimen baru yang mewarnai pelemahan rupiah, yakni depresiasi mata uang negara berkembang.

Sentimen ini bermula dari anjloknya lira sampai dengan 80 persen karena lilitan utang beberapa waktu lalu. Pelemahan lira, diikuti oleh rupiah.


Pelemahan rupiah yang sempat tertahan di level Rp14.400 per dolar AS sebelum ekonomi Turki bergejolak, tiba-tiba ambles ke level Rp14.600, walaupun sekarang sudah menguat ke level Rp14.565.

Meski lira Turki sudah 'siuman', bukan berarti bayang-bayang risiko pelemahan mata uang dari negara itu sudah pergi.

Justru, momen jatuhnya lira harus jadi peringatan bagi Indonesia bahwa sentimen baru akan terus bermunculan. Apalagi, setelah lira, sejumlah mata uang negara berkembang juga melemah. 

Ambil contoh rupee India yang sudah terdepresiasi sekitar 9,32 persen, real Brazil 19,85 persen, dan peso Argentina yang sudah ambles 60,38 persen.


Ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan pelemahan mata uang sesama negara berkembang memang belum tentu berdampak besar kepada Indonesia.

Apalagi mereka banyak yang bukan mitra dagang utama bagi Indonesia. Namun, pelemahan nilai tukar, bisa saja menjalar ke Indonesia. 

Penularan bisa terjadi dalam beberapa bentuk. Pertama, yang paling sederhana ialah pelemahan mata uang negara berkembang membuat amunisi penguatan dolar AS bertambah, sehingga turut menekan mata uang lain, termasuk rupiah.
Kedua, pelemahan mata uang suatu negara berkembang membuat investor turut memandang sama semua negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia sebagai negara rentan.

"Seperti keranjang buah, satu busuk, dianggap yang lain busuk juga. Meski sebenarnya dampaknya tidak langsung," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/8).

Telisa mengatakan bahwa pandangan tersebut bisa menimbulkan kerugian bagi Indonesia. Karena Indonesia negara berkembang, dianggap sama rentan dengan negara lain, investor bisa mengurungkan diri untuk menanamkan uang mereka di Indonesia.

Ketika pandangan tersebut terjadi, dana asing akan sulit masuk ke Indonesia. Indonesia bisa kehilangan motor untuk menggerakkan ekonomi. 

Sementara itu ketiga, pelemahan mata uang sesama negara berkembang mungkin tidak langsung berdampak kepada Indonesia, tapi memantul ke negara besar di kawasan Asia, misalnya Singapura atau China.

"Bisa juga kenanya tidak langsung, tapi lewat negara-negara hub. Itu bisa memberi risiko juga," katanya.

Telisa mengatakan, risiko tersebut tak bisa didiamkan. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu melakukan mitigasi lebih cepat agar tidak tertular penyakit tersebut. 
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, segera pulihkan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Pasalnya, kesehatan neraca transaksi berjalan sedikit banyak memberi sentimen negatif ke stabilitas nilai tukar rupiah.

Segera Waspadai Pelemahan Mata Uang Negara Berkembang(REUTERS/Murad Sezer)
Pemerintah dan BI sebenarnya sudah punya formula untuk mengatasi masalah tersebut; membatasi impor, meningkatkan ekspor, dan membuka keran baru yang bisa mengalirkan devisa lebih deras. Kebijakan tersebut harus segera dilaksanakan dengan baik.
Kedua, jaga kenyamanan investor. Cara, bermacam-macam.

Pemerintah bisa memastikan perizinan investasi tidak sulit dan menjaga instrumen investasi tetap bisa menarik gairah investor.

Kenaikan suku bunga acuan BI, katanya, bisa menjadi bantalan untuk menjaga daya tarik itu.

"Yakinkan investor bahwa Indonesia itu masih aman dan menguntungkan untuk investasi. Indonesia harus jaga kekuatan invesment grade," terangnya.

Ketiga, manfaatkan momen spesial seperti perhelatan Asian Games dan Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia untuk mengeruk dolar. 

Cara lain, memantapkan pencapaian target makro ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi dan inflasi agar kepercayaan investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih layak untuk jadi sasaran penanaman modal tinggi.

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan pelemahan mata uang sesama negara berkembang setelah anjloknya lira memang jadi perhatian bank sentral nasional.

BI akan terus berupaya melakukan mitigasi agar pelemahan kondisi tersebut tak berimbas ke Indonesia. Mitigasi dilakukan dengan menggunakan pelemahan tersebut sebagai pertimbangan dalam mengambil kebijakan moneter. 

"Sudah, sudah kami perhatikan, misal India, Turki, Argentina dan Brazil yang tekanan mata uangnya cukup besar," katanya.

(agt/agt)