ANALISIS

Bisnis Ritel yang Terancam 'Dibanting' Rupiah

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Selasa, 11/09/2018 15:01 WIB
Bisnis Ritel yang Terancam 'Dibanting' Rupiah Ilustrasi ritel. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sejak awal tahun mengancam usaha ritel yang berbasis impor. Sebutlah, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Ketiganya merupakan perusahaan terbuka alias emiten berkapitalisasi besar di sektor ritel. "Produk emiten tersebut didominasi oleh impor. Emiten ini cenderung tertekan ke depan," ujar Analis dan Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/9).

Tengok saja, Mitra Adiperkasa menyebut bahwa barang yang diperjual-belikannya adalah barang impor sebanyak 50 persen dari seluruh gerai yang dimiliki perusahaan.

Padahal, menurut pengakuan Head of Corporate Communications Mitra Adiperkasa Fetty Kwartati, batas aman perusahaan dalam berbisnis jika nilai tukar terjaga pada level Rp14 ribu per dolar AS.


Kenyataannya, saat ini rupiah tembus hingga Rp14.850 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh level Rp15 ribu per dolar AS pada pekan lalu.

"Kami berharap agar pelemahan rupiah tidak terus terjadi, sehingga barang-barang tidak mengalami kenaikan harga jual," terang Fetty.

Sebagai upaya mengurangi tekanan, manajemen tengah mengupayakan negosiasi dengan pihak pemegang merek (brand principal) dan meminta dukungan di tengah pergerakan mata uang yang volatile saat ini.

"Alternatif lain dengan mengimpor barang dengan harga FOB (Free on Board) yang lebih rendah," jelasnya.


Seperti diketahui, Mitra Adiperkasa merupakan pemegang lisensi berbagai merek fesyen dan restoran siap saji dari berbagai negara, salah satunya AS. Beberapa merek fesyen tersebut, yakni ZARA, Pull & Bear, Mango, Lacoste, Topshop/Topman, Dorothy Perkins, dan Bershka.

Sementara, beberapa restoran siap saji yang berada di bawah Mitra Adiperkasa, di antaranya Burger King, Genki Sushi, Domino's Pizza, Cold Stone, dan Krispy Kreme.

Pun demikian, Fetty optimistis perusahaan mampu bertahan dan pelemahan rupiah belum berdampak signifikan pada kantong perusahaan.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Ace Hardware Helen Tanzil mengklaim biaya operasional atawa modal kerja yang digunakan perusahaan untuk membeli barang impor masih terkendali. Walaupun, ia mengakui jumlah barang impornya mendominasi. Bahkan, mencapai lebih dari 50 persen terhadap total produk yang diperjual-belikan.

Bisnis Ritel yang Terancam 'Dibanting' RupiahLaba dan pendapatan emiten MAPI, ACES, dan ERAA pada 2017 dan per Juni 2018. (CNN Indonesia/Timothy Loen).

"Ada yang lebih sering (barang yang diimpor), ada juga yang lebih jarang. Tapi tingkat persediaan kami adalah 200 hari, jadi cukup panjang," papar Helen.

Walaupun jumlah barang impor lebih banyak dari barang lokal, tetapi perusahaan belum berniat untuk menaikkan harga jual kepada konsumen.

"Kami masih observasi, belum ada penyesuaian harga," terang Helen.

Jaga Pasar

Sebetulnya, Lucky berpendapat importir tak memiliki banyak pilihan dalam kondisi seperti ini. Apabila perusahaan memilih menaikkan harga jual, maka ancamannya adalah daya beli konsumen.

Namun, jika tidak menaikkan harga, pendapatan perusahaan akan semakin tergerus. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan manajemen untuk membeli barang impor terus membengkak.


"Tapi lebih baik mengorbankan biaya operasional atau biaya untuk beli barang impor, tanpa menaikkan harga jual," katanya Lucky menyarankan.

Hal ini demi menjaga pasar masing-masing perusahaan. Yang lebih berbahaya, ucap Lucky, jika biaya operasional membengkak dan perusahaan kehilangan pasarnya.

"Keuangan memang mau tidak mau akan tergerus," tutur dia.

Apalagi, untuk Erajaya Swasembada yang menjual barang elektronik berupa ponsel pintar dan berbagai aksesorisnya dengan berbagai merek, seperti Samsung, Lenovo, Xiaomi, Asus, dan Vivo.


"Mereka kan segmennya teknologi, dampaknya tinggi sekali kalau rupiah seperti saat ini karena belinya pakai dolar AS," ungkap dia.

CNNIndonesia.com sudah mencoba menghubugi manajemen Erajaya Swasembada, namun Direktur Marketing dan Komunikasii Djatmiko Wardoyo, belum merespons.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menuturkan komposisi impor Erajaya Swasembada agaknya tidak sebesar empat atau lima tahun lalu. Toh, beberapa ponsel pintar sudah bisa diproduksi dan dirancang di dalam negeri.

Dengan kata lain, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk Erajaya Swasembada perlahan mulai meningkat. "Tapi dampak pelemahan nilai tukar memang tetap ada," ucap Alfred.


Apalagi, jika perusahaan memiliki utang berdenominasi dolar AS. Tak hanya biaya beli barang yang membengkak, tapi juga beban biaya bayar utang semakin melebar dan mengganggu kas perusahaan.

Mengutip laporan keuangan Erajaya Swasembada per Juni 2018, perusahaan tercatat memiliki utang usaha pihak ketiga dalam bentuk dolar AS (tertulis dalam bentuk rupiah di laporan keuangan) sebesar Rp983,84 miliar.

"Jika pendapatan semuanya dalam bentuk rupiah dampaknya semakin besar, kalau ada pendapatan dolar AS, pendapatan dalam bentuk dolar AS itu bisa digunakan untuk bayar utang," jelasnya.

Sementara, Ace Hardware memiliki utang berbentuk dolar AS per Juni 2018 sebesar Rp4,59 miliar (utang dolar AS tertulis dalam mata uang rupiah).


Berbeda dengan manajemen Mitra Adiperkasa yang mengklaim tak memiliki utang berdenominasi dolar AS, karena semua utang dalam bentuk rupiah.

Sepanjang semester I 2018, jumlah liabilitas Mitra Adiperkasa tercatat sebesar Rp7,15 triliun. Angka itu turun tipis dibanding dengan posisi Desember 2017 sebesar Rp7,18 triliun.

Melihat kondisi seperti ini, baik Alfred maupun Lucky masih enggan merekomendasikan saham berbasis ritel hingga rupiah bisa bergerak stabil. Keduanya menyarankan pelaku pasar yang belum memiliki saham di sektor ritel sebaiknya menahan diri terlebih dahulu untuk mengambil posisi di saham tersebut.

"Peluang tekanannya masih cukup besar dan cukup berat. Lagipula, valuasi saham Erajaya Swasembada, Mitra Adiperkasa, dan Ace Hardware Indonesia sudah tinggi," terang Alfred.


Terkait harga sahamnya sendiri, dua dari tiga saham tersebut bergerak melemah pada Senin (10/9). Rinciannya, saham Erajaya Swasembada turun 0,84 persen ke level Rp2.350 per saham, Ace Hardware Indonesia turun 0,4 persen ke level Rp1.255 per saham, dan Mitra Adiperkasa berhasil naik 0,63 persen ke level Rp800 per saham.

Lucky menambahkan fundamental ketiga emiten ini sebenarnya dalam kondisi cukup baik. Hanya saja, masa depannya bisa menjadi buruk jika rupiah tak kunjung kembali ke level Rp14.500 per dolar AS.

Merujuk pada laporan keuangan emiten masing-masing, kinerja keuangan ketiganya pada paruh pertama tahun ini terlihat meningkat.

Tercatat, laba bersih Erajaya Swasembada bahkan melonjak hingga 212,31 persen. Diikuti dengan Mitra Adiperkasa yang meningkat 180,48 persen, dan Ace Hardware yang tumbuh 29,84 persen.


(bir)