REKOMENDASI SAHAM

Koleksi Saham Perbankan Jelang Rapat Bank Sentral AS

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 17/09/2018 10:17 WIB
Koleksi Saham Perbankan Jelang Rapat Bank Sentral AS Layar perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak lama lagi, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve akan menggelar rapat komite pasar terbuka (Federal Open Market Committee/FOMC) untuk menentukan suku bunga acuan pada 25-26 September 2018 mendatang.

Sentimen jelang pertemuan itu dan berbagai spekulasi terkait hasil keputusan The Fed dinilai akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Kendati demikian, sejumlah analis menyarankan agar pelaku pasar tak perlu takut untuk masuk saham perbankan, di tengah potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed dalam rapat FOMC akhir bulan ini.



Lucky Bayu Purnomo, Analis dan Pendiri LBP Institute mengatakan Bank Indonesia (BI) tak bisa melulu mengikuti langkah The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum tumbuh signifikan, layaknya Negeri Paman Sam tersebut.

"Indonesia pertumbuhan ekonominya masih lima persen terus, kalau AS kan pertumbuhan ekonominya naik tinggi dari satu persenan menjadi 2,9 persen sekarang," papar Lucky kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/9).

Sebagai informasi, pergerakan IHSG dan saham perbankan biasanya sangat sensitif terhadap sentimen potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed dan BI.


Dengan kata lain, saham perbankan dan IHSG umumnya akan terkoreksi jika Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan, terlebih jika BI ikut mengerek suku bunga acuan dari posisi saat ini di level 5,5 persen.

"Apa yang perlu ditakuti pasar? Saham-saham perbankan juga sekarang murah, potensi ke depan masih bagus juga," katanya.

Saham perbankan yang berpotensi naik, antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

"Nilai kapitalisasi pasar (market capitalization/market cap) ketiganya masih cukup besar," imbuh Lucky.

Berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, tiga saham emiten tersebut pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (14/9), merupakan tiga saham dengan nilai kapitalisasi terbesar di sektor keuangan.


Bila dirinci, nilai kapitalisasi pasar saham BCA sebesar Rp585,18 triliun, saham BRI sebesar Rp374,88 triliun, dan saham Bank Mandiri sebesar Rp308,37 triliun.

Sementara itu, harga saham BCA terkoreksi pada perdagangan terakhirnya sebesar 0,1 persen ke level Rp23.975 per saham. Kemudian, saham BRI dan Bank Mandiri kompak menguat cukup signifikan pada Jumat kemarin masing-masing sebesar 2,33 persen ke level Rp3.070 per saham dan 2,66 persen ke level Rp6.750 per saham.

"Untuk satu pekan ini semua saham itu berpotensi naik tujuh persen dari penutupan Jumat," jelas Lucky.

Artinya, harga saham BCA berpeluang melaju ke level Rp25.653 per saham, saham BRI ke level Rp3.284 per saham, dan saham Bank Mandiri ke level Rp7.222 per saham.

Lucky meyakini BI tak akan selalu mengikuti keputusan The Fed karena akan memberikan sentimen negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.


Setali tiga uang, Kepala Riset PT Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe berpendapat selisih (spread) suku bunga BI dan The Fed sudah cukup jauh, yakni 3,5 persen. Seperti diketahui, suku bunga acuan The Fed saat ini sebesar dua persen.

"Padahal minimal spread kan tiga persen, jadi suku bunga Indonesia saat ini sebenarnya sudah aman," terang Kiswoyo.

Namun, jika memang BI memutuskan untuk ikut menaikkan suku bunga acuan bulan ini, kemungkinan besar kenaikannya hanya 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

"Tapi pasar juga sudah siap dengan angka itu, jadi sebenarnya aman untuk IHSG," tutur Kiswoyo.

Untuk saham perbankan sendiri, Kiswoyo masih optimistis potensi kenaikan masih ada karena IHSG saat ini sedang menanjak setelah anjlok pada dua pekan lalu.


"Saham perbankan ini kan sekarang murah dan sebagai penggerak IHSG juga," jelasnya.

Saham Bank Mandiri pekan ini diprediksi bergerak menuju level Rp7.000 per saham dan BRI akan menyentuh level Rp4.000 per saham.

Kiswoyo menambahkan, kinerja emiten perbankan pada paruh pertama tahun ini juga cukup cemerlang. Dengan demikian, pelaku pasar tidak perlu khawatir dengan prospek bisnis emiten perbankan di Tanah Air.

Rinciannya, laba bersih BCA tumbuh 8,4 persen menjadi Rp11,4 triliun, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp12,17 triliun atau tumbuh 28,7 persen, dan BRI meraih untung Rp14,93 triliun atau tumbuh 11 persen. (lav/bir)