Fakta Sawit yang Diklaim PSI Mampu Bikin Harga Gadget Murah

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 20:04 WIB
Fakta Sawit yang Diklaim PSI Mampu Bikin Harga Gadget Murah Ilustrrasi kelapa sawit. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Video singkat bertajuk Gadget Murah  karena Sawit yang diunggah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di media sosial menuai berbagai respons. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) salah satunya, menyebut dukungan yang diberikan PSI terhadap industri sawit tersebut mengaburkan fakta kepada publik.

Dalam video berdurasi 49 detik tersebut dijelaskan bahwa harga gadget saat ini naik akibat penguatan dolar AS. Untuk itu, perlu dukungan terhadap industri sawit yang disebut sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar guna meningkatkan devisa dan memperkuat rupiah.

Namun, bagaimana sebenarnya faktanya?



Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, produk minyak kelapa sawit beserta turunannya di luar produk kimia merupakan komoditas penyumbang devisa terbesar. Total ekspornya secara kumulatif sejak Januari hingga Juli 2018 mencapai US$7,73 miliar atau sekitar Rp114,4 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS).

Meski terbilang besar, ekspor tersebut turun 1,84 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, porsi ekspor kelapa sawit terhadap total eskpor Indonesia mencapai 7,41 persen, turun dibanding tahun lalu sebesar 8,18 persen.

Secara total, ekspor Indonesia pada Januari-Juli 2018 mencapai US$104,23 miliar, sedangkan total impor mencapai US$107,32 miliar. Akibatnya, neraca dagang defisit mencapai US$3,09 miliar.


Dengan neraca perdagangan itu, defisit neraca transaksi berjalan pun kian besar. Sementara di sisi lain, rencana kenaikan bunga Amerika Serikat membuat arus modal asing yang biasanya digunakan untuk membiayai defisit neraca transaksi berjalan berkurang.

Alhasil, pada semester pertama tahun ini, neraca pembayaran mengalami defisit US$8,2 miliar. Kondisi ini membuat cadangan devisa Indonesia tergerus dan nilai tukar rupiah melemah.

Presiden Joko Widodo sebelumnya juga mengungkapkan industri sawit memiliki peran besar bagi perekonomian Indonesia. Sebanyak 17 juta petani dinilai bergantung pada industri tersebut.

Namun, saat ini, industri sawit di tanah air tengah mengalami sejumlah tantangan, mulai dari kampanye hitam di Uni Eropa hingga kenaikan tarif oleh India. (agi/bir)