Akhiri Pekan, IHSG Diprediksi Terkoreksi Pelemahan Rupiah

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 05/10/2018 08:30 WIB
Akhiri Pekan, IHSG Diprediksi Terkoreksi Pelemahan Rupiah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan terkoreksi pada akhir pekan ini karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan diperkirakan masih terkoreksi akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kemarin, mata uang Garuda terjatuh paling tajam kedua di antara mata uang Asia setelah won Korea di posisi Rp15.179 per dolar AS pada perdagangan sore.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan pelaku pasar berharap rilis data cadangan devisa oleh Bank Indonesia (BI) bisa meredam kekhawatiran mereka. Sampai akhir Agustus 2018, cadangan devisa tercatat sebesar US$117,9 miliar. Angka itu tergerus US$400 juta dari level cadangan devisa akhir Juli lalu yang sebesar US$118,3 miliar.

"Investor juga menunggu rilis data cadangan devisa," kata Dennies dalam riset, Jumat (5/10).


Dennies memprediksi indeks bergerak di rentang support 5.676-5.716 dan resistance di 5.821-5.886.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi agak optimis IHSG berbalik arah (rebound). Dari sisi teknikal, ia melihat potensi rebound jangka pendek dibanding pergerakan psikologis pola sebelumnya.

"Diperkirakan IHSG akan bergerak mencoba rebound dengan support resistance pergerakan 5.740-5.820," imbuh Lanjar.

Lanjar menyarankan pelaku pasar untuk mencermati saham-saham, antara lain PT Bank Negara Indoensia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), PT PP London Sumatra Indonesia (LSIP), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL), PT Petrosea Tbk (PTRO), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada perdagangan hari ini.


Sementara itu, IHSG makin merosot pada perdagangan kemarin ke posisi 5.756,62. Indeks turun tajam 1,89 persen atau 111,12 poin. Investor asing tercatat jual bersih (net sell) Rp1,16 triliun yang merupakan aksi jual investor asing terbesar sejak Februari 2018.

Kejatuhan juga dialami bursa saham AS pada perdagangan Kamis waktu setempat dipicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi 10 tahunan AS yang mencapai posisi tertinggi dalam tujuh tahun di 3,23 persen.

Indeks Dow Jones turun 200,91 poin, atau 0,75 persen menjadi 26.627,48. Sementara indeks S&P 500 melemah 23,9 poin atau 0,82 persen menjadi 2.901,61. Sementara Nasdaq turun 145,58 poin atau 1,81 persen, menjadi 7.879,51.


(uli/bir)