Indikator pertama, rasio kecukupan modal (capital adequacy ration/ CAR). Kedua, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Ia berharap dua indikator tersebut bisa terjaga baik.
Ani mengakui untuk masalah kredit bermasalah muncul ancaman dari kebijakan kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI guna mengimbangi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS). "Memang ada konsekuensi dari kebijakan seperti itu, makanya perlu kehati-hatian, apakah dari sisi CAR, NPL maupun likuiditas mereka," katanya di Jakarta, Jumat (5/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dilihat dari sektor ekonomi lainnya juga, apakah mereka terpapar terlalu banyak dari sisi mata uang, apakah mungkin juga dari sisi utangnya. Kami juga akan melihat itu semua dalam konteks stabilitas sektor keuangan," katanya.
"Jadi kalau mengalami adjustment hingga Rp15 ribu, saya rasa ini akan terjadi perbaikan di perbankan," imbuh dia.
Sebelumnya,OJK menyebut perbankan Indonesia masih bisa bertahan walaupun nilai tukar rupiah terus melemah. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan perbankan mendapatkan tenaga dari kenaikan harga komoditas yang akhirnya mengerek pertumbuhan kredit.
Bangkitnya harga komoditas menggerakkan kredit pengolahan batu bara, kelapa sawit, hingga konsumsi. Di samping pertumbuhan kredit, Wimboh juga mengatakan likuiditas perbankan masih kuat. Bahkan OJK mencatat adanya kelebihan likuiditas di sektor perbankan mencapai Rp500 triliun.
Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.190 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (5/10). Posisi ini melemah poin atau persen dari kemarin sore, Kamis (4/10).
Meski dibuka melemah, namun beberapa menit berselang rupiah justru berbalik menguat. Pada pukul 09.00 WIB, rupiah berbalik menguat ke Rp15.172 per dolar AS.
Bersama rupiah, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen. Namun, mayoritas mata uang lain justru masih tertahan di zona merah. Baht Thailand melemah 0,01 persen, dolar Singapura minus 0,01 persen, yen Jepang minus 0,02 persen, dan won Korea Selatan minus 0,04 persen.
Meski dibuka melemah, namun beberapa menit berselang rupiah justru berbalik menguat. Pada pukul 09.00 WIB, rupiah berbalik menguat ke Rp15.172 per dolar AS.
Bersama rupiah, peso Filipina, ringgit Malaysia, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen. Namun, mayoritas mata uang lain justru masih tertahan di zona merah. Baht Thailand melemah 0,01 persen, dolar Singapura minus 0,01 persen, yen Jepang minus 0,02 persen, dan won Korea Selatan minus 0,04 persen.