IMF: Ekonomi Indonesia Jangka Menengah Bisa Naik 1 Persen

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 13/10/2018 15:51 WIB
IMF: Ekonomi Indonesia Jangka Menengah Bisa Naik 1 Persen Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1 persen dalam jangka menengah, dari posisi 5,1 persen. (REUTERS/Johannes P. Christo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1 persen dalam jangka menengah, dari posisi saat ini sekitar 5,1 persen pada 2018.

Sebelumnya, lembaga keuangan global itu memperkirakan ekonomi Tanah Air hanya akan tumbuh 5,1 persen pada 2019.

Deputi Direktur Departemen Asia Pasifik IMF Kenneth Kang mengatakan Indonesia punya peluang meningkatkan ekonomi bila kebijakan reformasi struktural yang sudah dimulai saat ini terus dilakukan. Sebab, reformasi ini akan membuat fundamental ekonomi Indonesia semakin kuat, meski tekanan eksternal menerjang.



Reformasi struktural itu terdiri atas beberapa hal. Pertama, memperluas sumber pembiayaan untuk menambah kemampuan dana. Kedua, memacu pertumbuhan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Ketiga, mereformasi pasar tenaga kerja demi merangsang investasi swasta.

"Kombinasi kebijakan ini dapat menjadi potensi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar satu persen dalam jangka menengah," ujar Kang, Jumat (12/10).

Selain itu, IMF menilai Indonesia bisa meningkatkan pertumbuhan dari beberapa kebijakan cepat yang diambil saat ini, yaitu menjaga fiskal dan memulihkan defisit transaksi berjalan.


"Kami mendukung ini karena bisa menjaga stabilitas makro Indonesia. Kami yakin, mereka mampu bekerja keras dan mengadaptasi perubahan dengan mengeluarkan kebijakan yang pas untuk mereka," katanya.

Untuk saat ini, IMF menilai kondisi ekonomi Indonesia sejatinya memiliki fundamental yang baik, meski ada tekanan terhadap nilai tukar rupiah, sehingga terjadi depresiasi atau pelemahan.

"Mata uang Indonesia sudah terdepresiasi sekitar 11 persen terhadap dolar AS, tapi ini terjadi pula pada Selandia Baru dan Australia yang terdepresiasi 9 persen," ucapnya.

Namun, IMF menilai beberapa indikator fundamental ekonomi Indonesia tetap baik. Misalnya, rasio utang pemerintah sekitar 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1 persen.


Kemudian, inflasi masih jauh di bawah target pemerintah sebesar 3,5 persen, cadangan devisa sekitar US$115 miliar, dan tingkat kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan sekitar 22 persen. (uli/lav)