Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.194 per dolar AS atau menguat 59 poin dari kemarin sore, Kamis (11/10) di Rp15.253 per dolar AS.
Bersama rupiah, sejumlah mata uang negara di kawasan Asia turut menguat dan bersandar di zona hijau. Won Korea Selatan menguat 1,14 persen, rupee India 0,58 persen, peso Filipina 0,17 persen, dan ringgit Malaysia 0,1 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan rupiah berhasil menguat pada hari ini karena rilis data inflasi AS tidak sesuai dengan ekspektasi pasar dan analis. Hal ini memberi sentimen negatif ke pergerakan dolar AS.
"Dolar AS langsung melemah hari ini dari mata uang utamanya. Data yang tidak sesuai ini membuat ekspektasi ada kemungkinan bank sentral AS, The Federal Reserve bisa tidak terlalu agresif menaikkan bunga," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/10).
Selain itu, pergerakan dolar AS juga terpengaruh oleh rilis neraca perdagangan China yang mencatatkan surplus sebesar US$31,69 miliar pada September 2018. Hal ini karena ekspor tumbuh 14,5 persen, sedangkan impor hanya 14,3 persen.
Untuk pekan depan, Dini memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp15.120-15.270 per dolar AS. Pergerakan rupiah utamanya akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global dan rilis neraca perdagangan dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Kalau neraca perdagangan defisit lagi, ada potensi melemah. Tapi kalau misal defisitnya tidak banyak, mungkin sentimen pelemahannya tidak dalam," pungkasnya.