Dilansir dari Reuters, Kamis (18/10), harga minyak mentah berjangka Brent ditutup merosot sebesar US$1,36 atau 1,7 persen ke level US$80,5 per barel. Harga acuan global tersebut merosot hampir US$7 dari harga 3 Oktober 2018 yang mencapai US$86,74 per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,17 atau 3 persen menjadi US$69,75 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekan ini, harga minyak mentah mendapatkan sokongan dari kekhawatiran terhadap pengenaan sanksi AS terhadap Iran. Selain itu, dorongan juga berasal dari memanasnya hubungan antara AS dan Arab Saudi akibat terbunuhnya seorang jurnalis Jamal Khashoggi.
Lihat juga:Pertamina Pastikan Laba Tahun Ini Menciut |
Sebagai catatan, rata-rata volume perdagangan kontrak berjangka minyak mentah harian selama 10 bulan terakhir hanya 583 ribu kontrak. Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS naik 6,5 juta barel pada pekan lalu, hampir tiga kali lipat dari perkiraan sejumlah analis.
Persediaan minyak mentah naik tajam meski produksi minyak mentah AS tergelincir 300 ribu bph menjadi 10,9 juta bph pekan lalu. Analis memperkirakan turunnya produksi minyak mentah AS merupakan imbas dari penutupan sementara fasilitas produksi minyak lepas pantai akibat terjangan Badai Siklon Tropis Michael.
Sementara, skandal hilangnya jurnalis dan kritikus kerajaan Arab Saudi Jamal Khashoggi mendorong harga minyak mentah di awal pekan. Khashoggi menghilang sejak dua pekan lalu setelah memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.
Penegak hukum AS menuding kepemimpinan Arab Saudi yang mengindikasikan dapat dijatuhkannya sanksi. Negara barat menekan Arab Saudi untuk memberikan jawaban.
Namun pernyataan Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa Gedung Putih kemungkinan tidak akan memberikan sanksi tambahan kepada Arab Saudi, khususnya setelah Arab Saudi menyatakan akan melakukan investigasi.
Para investor khawatir Arab Saudi dapat menggunakan pasokan minyak untuk membalas kritik. Tindakan tersebut dalam membuat gejolak di pasar mengingat Arab Saudi tidak pernah lagi menggunakan minyak sebagai senjata sejak embargo minyak pada awal 1970-an. Pasar juga telah mengantisipasi berkurangnya pasokan saat sanksi AS terhadap ekspor minyak mentah Iran berlaku efektif pada 4 November 2018.
Iran menuding Arab Saudi dan Rusia telah melanggar kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terkait pemangkasan pasokan dengan mengerek produksi minyak mentah lebih banyak yang akan menggerus pangsa pasar Iran.