RI Berpotensi Kembangkan Industri Fesyen ke Arab Saudi

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 19/10/2018 10:18 WIB
RI Berpotensi Kembangkan Industri Fesyen ke Arab Saudi Ilustrasi industri fesyen. (CNNIndonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong sejumlah pengusaha domestik untuk menanamkan investasi di Riyadh, Arab Saudi. Salah satu sektor yang berpotensi digarap oleh pengusaha Indonesia, yakni fesyen.

Kepala BKPM Thomas Lembong menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan salah satu direksi e-commerce atau e-dagang  Hijup.com di salah satu acara. Hijup.com merupakan salah satu e-commerce yang bergerak di sektor fesyen bergaya muslim.

"Hijup.com sudah sukses ekspor ke beberapa negara. Ini contoh investasi atau potensi dari Indonesia ke Arab Saudi yang menurut saya luar biasa, fesyen," papar Lembong, Kamis (18/10).



Tak hanya soal ekspor fesyen, bentuk investasi lainnya di Arab Saudi juga bisa dengan membuka kantor perwakilan investor asal Indonesia di Arab Saudi. Nantinya, karyawan asal Arab Saudi bisa mengajarkan karyawan Indonesia yang bekerja di kantor perwakilan tersebut potensi pasar di Arab Saudi.

"Lalu mengajarkan struktur pasar di sana seperti apa, kemudian bantu menghubungkan dengan nasabah yang potensial di sana maupun mitra yang potensial," jelas Lembong.

Melalui kantor perwakilan tersebut, Indonesia dapat mempromosikan sektor pariwisata dan gaya hidup (lifestyle). Lembong percaya jenis gaya hidup masyarakat Indonesia yang bisa tetap bersenang-senang tanpa alkohol bakal menarik bagi investor Arab Saudi atau investor yang datang dalam forum investasi atau Davos in the Desert.

"Jadi pengalaman positif, tidak muntah-muntah, pukul-pukulan, mabok-mabokan. Tapi sebuah pengalaman wisata yang ceria dan positif," kata Lembong.


Ia pun menekankan kasus yang tengah membelit Arab Saudi karena diduga berada dibalik pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi tak akan mengganggu hubungan ekonomi Indonesia dengan negara tersebut.

"Kalau budaya Indonesia kalau ada hal seperti ini merapat, kalau budaya barat kalau prihatin budayanya protes atau menjauh," tutur Lembong.

Sebelumnya, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christina Lagarde mengklaim jika dirinya batal hadir dalam acara Davos in the Desert akibat dugaan pembunuhan salah satu jurnalis internasional di Arab Saudi. (aud/agi)