REKOMENDASI SAHAM

Pajak Rumah Akan Dihapus, Saham BSD dan Summarecon Mengilap

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 08:19 WIB
Pajak Rumah Akan Dihapus, Saham BSD dan Summarecon Mengilap Ilustrasi saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pemerintah menghapus Pajak Penghasilan (PPh) 22 dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk pembelian rumah diperkirakan mengerek saham-saham emiten berbasis properti pada pekan ini.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IP) Ali Tranghanda menyebut bahwa lesunya industri properti beberapa tahun terakhir menjadi sentimen negatif untuk saham sektor properti. Maklumlah, penjualan emiten sektor ini juga memang belum naik signifikan.

Makanya, ia menilai penghapusan PPh 22 dan PPnBM bisa mendorong penjualan rumah, khususnya rumah mewah. "Saat ini, penjualan properti mewah lebih terganggu psikologi tahun politik, jadi dampaknya agak panjang," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/10).

Apalagi, ia melanjutkan mayoritas investor umumnya akan mengambil sikap menunggu (wait and see) untuk membenamkan dana mereka di sektor properti. Sebab, pergantian kepala negara bisa mengubah kebijakan yang saat ini diberlakukan.


Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki optimistis rencana perubahan kebijakan pemerintah terkait pajak rumah akan menguntungkan saham emiten properti, terutama mereka yang menawarkan rumah mewah. Sejumlah saham itu antara lain PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI).

"Relaksasi itu akan menjadi angin segar bagi sektor properti ketika suku bunga terus naik," tutur Achmad.

Bahkan, efeknya bisa segera terasa langsung saat kebijakan itu diteken oleh pemerintah. Ia mencontohkan, apabila penghapusah PPh 22 dan PPnBM dilakukan pada awal kuartal IV 2018, maka efeknya bisa terlihat pada akhir kuartal IV 2018. Namun, kalau pemerintah menghapusnya pada akhir kuartal IV, kenaikan penjualan baru bisa dirasakan pada 2019 mendatang.

"Paling cepat terasa setelah diputuskan pemerintah, kalau pada akhir kuartal ya mungkin terasa pada kuartal selanjutnya," jelas Achmad.


Terkait pergerakan harga saham yang direkomendasikan oleh Achmad, ketiganya tampak belum melaju kencang hingga akhir pekan lalu. Saham Bumi Serpong Damai meningkat 0,45 persen ke level Rp1.105 per saham, Summarecon Agung bergerak stagnan di level Rp610 per saham, sedangkan Alam Sutera Realty justru terkoreksi sampai 2,14 persen menjadi Rp274 per saham.

Kendati begitu, Achmad menilai pelaku pasar bakal memborong ketiga saham properti di atas mulai pekan ini, di tengah rencana pemerintah meringankan pajak properti bagi masyarakat. Potensi aksi beli pelaku pasar tentu akan mengerek harga saham ketiga emiten ini.

"Dari data marketing sales beberapa emiten yang sudah rilis, terlihat pertumbuhan yang cukup baik dari segi penjualan," terang dia.

Ia merinci harga saham Bumi Serpong Damai pekan ini diperkirakan menyentuh level Rp1.200 per saham, Summarecon Agung mengarah ke level Rp680 per saham, dan Alam Sutera Realty bergerak ke level Rp298 per saham. Ketiga saham tersebut berpeluang menguat lebih dari delapan persen dalam jangka waktu sepekan.


Namun demikian, kinerja keuangan ketiga emiten ini tak bisa dibilang cemerlang sepanjang semester I 2018. Laba bersih dan pendapatan emiten-emiten tersebut kebanyakan menunjukkan penurunan.

Laba bersih Bumi Serpong Damai, misalnya anjlok 80,86 persen per semester I 2018 jadi Rp409,22 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp2,01 triliun. Hal ini disebabkan pendapatan perusahaan yang melorot 27,44 persen dari Rp4,3 triliun menjadi Rp3,12 triliun.

Kemudian, laba bersih Alam Sutera Realty juga lebih rendah 26,84 persen menjadi Rp517,29 miliar dari sebelumnya Rp707,08 miliar. Padahal, pendapatan Alam Sutera Realty naik 30,35 persen dari Rp1,68 triliun menjadi Rp2,19 triliun.

Sebaliknya, pendapatan Summarecon Agung turun tipis 1,48 persen dari Rp2,7 triliun menjadi Rp2,66 triliun. Namun, perusahaan beruntung laba bersihnya tetap naik 29,62 persen menjadi Rp78,37 miliar dibandingkan sebelumnya Rp60,46 miliar.

Pajak Rumah Akan Dihapus, Saham BSD dan Summarecon MengilapIlustrasi BSD. (Dok. bsdcity.com).

Menanti Kepastian

Di sisi lain, momentum ini hanya akan berlaku jangka pendek jika pemerintah tak segera mengumumkan kepastian penghapusan PPh 22 dan PPnBM. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengaku masih mempertimbangkan penghapusan pajak rumah tersebut.

"Jadi, ada mempertimbangkan untuk dihilangkan. Ada PPh 22 dan PPnBM, mana yang bisa memberikan dampak paling signifikan. Yang bisa dihilangkan lebih dulu, ya itu yang kami hilangkan lebih dulu," ucap Suahasil.

Analis Trimegah Sekuritas Rovandi menjelaskan pelaku pasar tak lagi merespons positif rencana perubahan kebijakan pemerintah mengenai pajak rumah jika sampai pekan depan belum ada informasi terbaru. Walhasil, pergerakan saham properti yang sebelumnya diprediksi menguat bisa berbalik melemah.


"Maksimal sentimennya hanya satu pekan, setelah itu jika tidak ada perkembangan yang mendukung saya khawatir saham properti kembali dalam tren penurunan," tutur Rovandi.

Untuk sepekan ini, ia ikut merekomendasikan saham Bumi Serpong Damai dan Summarecon Agung. Selain itu, pelaku pasar juga bisa mencermati saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Intiland Development Tbk (DILD).

"Secara valuasi saham sudah murah dan secara teknikal juga menarik," jelasnya.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, tiga saham itu berakhir di teritori positif pada Jumat kemarin. Saham Pakuwon Jati menguat 0,83 persen ke level Rp488 per saham, Ciputra Development menguat 1,75 persen ke level Rp870 per saham, dan Intiland Development ditutup stagnan di level Rp318 per saham.


"Target harga saham Pakuwon Jati pekan ini Rp500-Rp520 per saham, Ciputra Development Rp930-Rp950 per saham, dan Intiland Development Rp350-Rp370 per saham," papar Rovandi.

Sementara, valuasi saham umumnya bisa dilihat dari price earning ratio (PER) masing-masing emiten. PER dapat menjadi salah satu patokan pelaku pasar untuk menentukan harga wajar saham suatu emiten.

Mengutip RTI Infokom, PER Ciputra Development pada akhir pekan lalu sebesar 45,79 kali, Pakuwon Jati sebesar 10,38 kali, dan Intiland Development sebesar 11,78 kali. Kemudian, PER Summarecon Agung dan Bumi Serpong Damai masing-masing sebesar 55,45 kali dan 25,7 kali.


(bir)