Menko Darmin: Kalau Tahun Ini Tidak Impor Beras, Kita Tewas

Tim, CNN Indonesia | Senin, 22/10/2018 19:57 WIB
Menko Darmin: Kalau Tahun Ini Tidak Impor Beras, Kita Tewas Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution memproyeksi beras nasional mengalami surplus sekitar 2,8 juta ton, atau lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution memproyeksi data produksi beras nasional hingga akhir tahun mengalami surplus sekitar 2,8 juta ton, atau lebih rendah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Disebutkan, produksi beras nasional sampai akhir 2018 akan mencapai 32,4 juta ton. Di sisi lain, konsumsi hingga akhir tahun ini diperkirakan mencapai 29,6 juta ton.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, surplus beras 2017 mencapai 13,81 juta ton. Artinya, surplus beras tahun ini susut 11,01 juta ton. Bahkan dulu, Darmin bilang, surplus bisa mencapai 20 juta ton.



Surplus yang kian melorot akhirnya membuat pasokan beras di pasar ikut mampet. "Memang suplai di pasar tahun ini tersendat (akibat surplus yang berkurang)," jelas Darmin di kantornya, Senin (22/10).

Pasokan beras di pasar juga terhambat, lantaran sebagian stok beras digunakan sendiri untuk konsumsi petani. Dengan demikian, stok beras tersebut tentu tidak dilepas ke pasar.

Darmin bilang, jumlahnya mungkin signifikan karena terdapat 4,5 juta Kepala Keluarga (KK) di Indonesia yang menjadikan beras sebagai mata pencahariannya.

"Itu sebabnya di awal tahun kami melihat bahwa stok ini sudah berkurang. Pada Maret silam, kami melihat stok di Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sudah mencapai 500 ribu ton, tak pernah ada kejadian seperti itu," papar dia.


Maka itu, ia menilai impor beras sebanyak 1,8 juta ton yang dilakukan sejak awal tahun sudah tepat. Apalagi, impor beras menyumbang cukup signifikan bagi pengadaan beras Bulog.

Data pengadaan beras Bulog per 22 Oktober 2018 tercatat 2,94 juta ton, di mana 61,22 persennya berasal dari pengadaan luar negeri.

"Jadi intinya persediaan akhir tahun kita aman karena impor. Kalau tidak ada impor, kita tewas," pungkas Darmin.

Sebelumnya, pemerintah memperdebatkan data produksi beras yang ternyata tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Tahun lalu, Kementan menyebut surplus produksi beras 11,3 juta ton, namun di sisi lain, harga beras di pasaran kian meroket.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), rata-rata harga beras medium saat ini di kisaran Rp11.550 per kilogram (kg). Angka ini perlahan turun dari rata-rata harga beras awal tahun lalu yang mencapai Rp11.950 per kg, namun angka ini masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).


Sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57 Tahun 2017, Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium adalah Rp9.450 per kg hingga Rp10.250 per kg. (glh/lav)