Di New York, Luhut Pamer RI Mampu Lewati Tekanan Global

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 28/09/2018 21:24 WIB
Di New York, Luhut Pamer RI Mampu Lewati Tekanan Global Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan optimis Indonesia mampu melewati situasi perekonomian global yang tengah sulit. Hal tersebut disampaikan Luhut saat menemui perusahaan investasi global, Morgan Stanley Asset Management di New York pada Kamis (27/9).

"Saya yakin pemerintahan sekarang bisa melewati situasi ekonomi saat ini. Momentum ini kami jadikan untuk melakukan beberapa perubahan karena kebijakan yang tidak jelas sangat berbahaya," ujar Luhut dalam keterangan resmi yang diterima Jumat (28/9).

Luhut menyebut penguatan dolar AS terhadap rupiah masih dapat diatasi, kondisi inflasi pun terjaga pada kisaran yang rendah. Ia juga membanggakan kinerja pendapatan pajak yang tumbuh dua digit dan angka kemiskinan yang berhasil diturunkan ke kisaran satu digit menjadi di kisaran 9,28 persen.


"Kami ingin tahun depan lebih baik lagi. Investment grade dari Moody's, S&P, dan Fitch," jelasnya.


Di sisi lain, ia menjelaskan defisit yang terjadi pada perekonomian Indonesia akibat dari pesatnya pertumbuhan kelas menengah. Jumlah kelas menengah yang meningkat tajam, menurut dia, membuat permintaan barang impor konsumsi turut meningkat.

"Kelas menengah ini juga membuat impor seperti ponsel meningkat. Pariwisata domestik kita juga meningkat. Dalam lima tahun terakhir, banyak pembelian pesawat Boeing dan Airbus yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan penerbangan Indonesia," paparnya.

Ia juga mengakui defisit pada neraca perdagangan Indonesia juga diakibatkan oleh impor bahan baku dan migas yang membengkak. Untuk itu, menurut dia, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah guna membantu menutup defisit dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.


Kebijakan tersebut mencakup mandatori biodiesel (B20), kewajiban meningkatkan penggunaan produk lokal pada produksi barang dalam negeri, dan meningkatkan pariwisata di Tanah Air.

"Sektor ini berbiaya murah (pariwisata), tetapi masukan yang didapat luar biasa. Saya tidak pernah menyangka pariwisata bisa menjadi primadona pemasukan negara. Kami sudah melakukan berbagai perbaikan," katanya.

Selain Morgan Stanley, Menko Luhut juga bertemu dengan perusahaan investasi lainnya, seperti Blackrock Investment Management, NN Investment Partners, TIAA Creft Investment Management, Prudential, Lazard Investment Management, dan Horizon Investment Management. Dalam pertemuan tersebut, ia juga membawa serta sejumlah pengusaha dari Indonesia dan perwakilan Bank Indonesia. (agi/agi)