Perbaikan tersebut ia yakini bisa memperbaiki keakuratan data produksi beras. "Pemutakhiran metode perhitungan produksi beras yang dilakukan BPS saya apresiasi. Koreksi telah menjawab rumor; data pangan yang dimiliki pemerintah memang tidak akurat," kata Fadli seperti dikutip dari akun twitternya, Sabtu (27/10).
Data produksi beras nasional berantakan. Terdapat ketidakakuratan data yang dimiliki oleh pemerintah. Ketidakakuratan disebabkan oleh perbedaan data produksi beras yang dimiliki oleh BPS dan Kementerian Pertanian.
[Gambas:Twitter]
Untuk 2018 ini saja BPS memproyeksikan produksi beras nasional sampai dengan akhir tahun hanya akan mencapai 32,42 juta ton. Tapi, Kementerian Pertanian justru memberikan proyeksi berbeda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, data Kementerian Pertanian per September menunjukkan data luas lahan sawah sebesar 8,18 juta ha. Presiden Jokowi beberapa waktu lalu mengatakan perbedaan dan permasalahan data produksi beras tersebut sudah terjadi sejak 1997 atau Era Presiden Soeharto.
[Gambas:Twitter]
Pasalnya permasalahan data produksi beras antara BPS dan Kementerian Pertanian cukup fatal. Perbedaan tersebut berpotensi membuat kebijakan beras yang diambil pemerintah salah.
"Menurut BPS, produksi beras kita 32,42 juta ton, sementara Kementan 46,5 juta ton. Selisihnya lebih dari 30 persen. Besar sekali. Bayangkan potensi penyimpangan kebijakan yang muncul akibat deviasi yg sangat besar tersebut, pastinya banyak sekali," katanya.
Evaluasi RAPBN 2019
Selain mengapresiasi kebijakan tersebut, Fadli juga meminta pemerintah mengevaluasi kembali RAPBN 2019. Pasalnya, perubahan kebijakan soal data produksi beras akan berpengaruh pada RAPBN 2019.
Perubahan tersebut akan membuat kebijakan pemerintah dalam RAPBN 2019 berubah. "Tidak lucu jika basis datanya berubah, namun kebijakannya tak berubah," katanya.
[Gambas:Twitter] (agt)