Alami Rugi Kurs, PLN Jamin Tak Ada Kenaikan Tarif Tahun Depan

CNN Indonesia | Rabu, 31/10/2018 19:32 WIB
Alami Rugi Kurs, PLN Jamin Tak Ada Kenaikan Tarif Tahun Depan PT PLN (Persero) memastikan tidak akan ada kenaikan tarif listrik tahun depan, meski perusahaan rugi bersih Rp18,46 triliun hingga kuartal III 2018. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) memastikan tidak akan ada kenaikan tarif listrik tahun depan, meski perusahaan telah membukukan rugi bersih Rp18,46 triliun hingga kuartal III 2018. Pasalnya, kinerja operasional PLN dianggap masih sehat.

Direktur Utama PLN Sofyan Basyir mengatakan kinerja operasional perusahaan dianggap masih untung, karena nilai penjualan listrik masih lebih besar ketimbang beban operasionalnya. Ia mencatat laba operasional sebelum selisih kurs di angka Rp9,6 triliun atau naik 13,3 persen dibanding tahun lalu Rp8,5 triliun.

Hanya saja, perusahaan mendera rugi kurs. Kerugian akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) itu mempengaruhi total pinjaman perseroan yang dicatat di laporan keuangan. Dengan demikian, angka liabilitas perusahaan seolah-olah membengkak sejak awal tahun.



Selisih utang dari kuartal III 2017 hingga kuartal III 2018 dimasukkan sebagai beban kurs, dan otomatis menjadi faktor penggerus laba operasional. Ia menghitung, selisih kerugian kurs hingga September mencapai Rp17,33 triliun.

"Kami masih memiliki laba operasional, cash flow kami tidak terganggu, yang saya bilang rugi itu adalah rugi pembukuan saja, karena kami ada nilai utang yang berubah seiring kenaikan kurs dolar. Jadi tidak perlu panik, tarif listrik tidak naik," jelas Sofyan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (31/10).

Ia tak menampik, pelemahan kurs rupiah juga menggembungkan beban operasional karena perusahaan membeli bahan baku listrik, seperti batu bara dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan valuta asing.


Sebagai contoh, kenaikan beban bahan bakar dan pelumas naik dari Rp85 triliun menjadi Rp101 triliun dan beban pembelian tenaga listrik juga menanjak dari Rp53 triliun menjadi Rp60 triliun. Meski demikian, ia masih meyakini perseroan bisa mencetak laba pada akhir tahun.

"Harus laba, dan sampai sekarang kami belum bicara dengan pemerintah soal kenaikan tarif listrik," papar dia.

Ke depan, Sofyan mengatakan PLN sudah mulai mengantisipasi dampak kurs di tahun mendatang. Salah satunya adalah dengan melakukan penyesuaian profil pinjaman jatuh tempo utang, atau biasa disebut reprofiling. Tujuannya, agar beban pelunasan utang perusahaan semakin aman kendati kurs terus bergejolak.

Sejauh ini, ia mengatakan sudah ada utang jangka panjang senilai US$1,5 miliar atau setara Rp22,5 triliun yang sudah dilakukan reprofiling. Itu terdiri dari utang sebesar US$1 miliar dan penerbitan Euro Bond sebesar US$500 juta yang jatuh temponya diperpanjang dari tujuh hingga 10 tahun menjadi 20 hingga 30 tahun.


"Dengan reprofiling, maka cashflow kami sangat kuat, dan likuditas masih surplus. Jadi keuangan PLN tidak memiliki masalah, kewajiban akan diselesaikan," papar dia.

PLN mencatat rugi hingga kuartal III sebesar Rp18,46 triliun atau amblas dibanding periode yang sama tahun lalu yakni laba Rp3,06 triliun. (glh/lav)