GAPKI Sebut Sawit RI Diuntungkan dari Perang Dagang AS-China

CNN Indonesia | Kamis, 01/11/2018 21:23 WIB
GAPKI Sebut Sawit RI Diuntungkan dari Perang Dagang AS-China Ilustrasi kelapa sawit. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya).
Nusa Dua, CNN Indonesia -- Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) disebut dapat menguntungkan posisi Indonesia, salah satunya terkait ekspor sawit. China merupakan salah satu negara tujuan ekspor sawit terbesar bagi indonesia.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono menjelaskan eskalasi ketegangan antara AS dan China turut berdampak pada pasar minyak nabati. Hal ini terutama dipengaruhi pengurangan impor kedelai dari AS oleh China sebanyak 1 juta ton per bulan akibat kenaikan tarif.

"Situasi ini dapat menjadi kesempatan bagi sawit Indonesia untuk mengisi kekurangan yang terjadi di pasar minyak nabati," ujar Joko dalam Konferensi Minyak Internasional (IPOC) 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (1/11).



China merupakan negara terbesar ketiga tujuan ekspor produk sawit Indonesia. Tahun lalu, ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia ke China mencapai 3,73 juta ton. Angka ini mengambil 12,01 persen dari total volume perdagangan internasional kelapa sawit.

Pada pertengahan tahun ini, Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Li Keqiang menyepakati tambahan ekspor CPO ke China sebanyak 500 ribu ton. Peluang ekspor tersebut diperkirakan dapat melonjak seiring meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China.

Sama seperti sawit, kedelai dapat menjadi bahan baku minyak goreng. Akibat pengurangan impor tersebut, harga kedelai mengalami penurunan. Kondisi ini turut menyeret harga minyak nabati lainnya, termasuk minyak sawit.


Sepanjang tahun ini, harga CPO telah anjlok 23,7 persen dari US$636 per ton pada awal 2018 menjadi US$485 per ton. Penurunan harga CPO tak hanya dipengaruhi oleh pembatasan impor kedelai tersebut, tetapi juga faktor stok yang berlimpah akibat produksi yang cukup bagus di tengah pelemahan permintaan global.

Joko juga memaparkan terdapat sejumlah tantangan yang masih harus dihadapi industri sawit. Pertama, tarif impor yang dikenakan sejumlah negara, salah satunya India yang menaikkan tarif terhadap produk CPO dan turunannya.

Kedua, rencana pembatasan penggunaan minyak sawit di Uni Eropa. Ketiga, kampanye hitam terkait produk sawit yang dilakukan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).


Utamakan Sawit di Perjanjian Dagang

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menekankan pemerintah akan selalu mengutamakan komoditas sawit dalam perjanjian dagang internasional. Saat ini, terdapat 13 perjanjian perdagangan yang tengah diselesaikan.

"Kami akan selalu utamakan sawit dalam perjanjian dagang internasional," terang Enggar.

Hal ini, menurut Enggar, memang membuat sejumlah perjanjian dagang dengan negara mitra, terutama Uni Eropa, tersendat. Pasalnya, saat ini berkembang kampanye hitam atas produk sawit Indonesia di Uni Eropa.


"Saya mengancam mereka, kalau mereka membatasi sawit kita, maka kami siap membatasi impor mereka ke kita," terang dia.

Saat ini, menurut Enggar, perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa yang sebelumnya tersendat selama bertahun-tahun hampir rampung. Namun, ia belum bisa memperkirakan waktu perjanjian tersebut diteken. (agi/lav)